Surabaya, Kemampuan komunikasi visual memerlukan latihan nyata di industri kreatif, di samping teori yang mahasiswa pelajari di ruang kuliah. Kesadaran itu mendorong Khoirotus Sabila, mahasiswa Ilmu Komunikasi peminatan Public Relations Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya, untuk memaksimalkan kesempatan magang di LKP Kahaf Brothers Surabaya.
Kahaf Brothers adalah lembaga kursus dan pelatihan yang berfokus pada pengembangan communication skills, public speaking, personality development, hingga broadcasting. Lembaga ini melayani anak-anak, pelajar, mahasiswa, sampai profesional yang ingin meningkatkan kemampuan berbicara di depan umum dan membangun personal branding. Berlokasi di kawasan Graha Pena Surabaya, Kahaf Brothers memberi Sabila ruang belajar untuk memahami praktik komunikasi digital secara langsung. Ia mendalami pengolahan konten video sebagai sarana membentuk reputasi lembaga.
Bagi mahasiswa Public Relations, magang di lembaga pelatihan komunikasi mempertemukan teori dengan praktik. Sabila mengamati langsung cara lembaga membangun citra lewat konten yang konsisten, mulai dari dokumentasi kelas sampai unggahan di media sosial. Pengalaman ini melengkapi materi perkuliahan yang ia terima di Untag Surabaya.
Belajar Storytelling di Ruang Editing
Sabila bertugas di divisi media dan penyuntingan. Ia mengolah dokumentasi kegiatan menjadi konten kreatif yang siap tayang di media sosial. Pekerjaannya mencakup pengolahan rekaman kelas public speaking dan TV presenter, serta perancangan desain thumbnail untuk platform Instagram dan YouTube. Setiap konten yang ia kerjakan akan tampil di hadapan audiens lembaga, sehingga ketelitian menjadi tuntutan harian. Satu klip rekaman menghasilkan beberapa keputusan sekaligus, mulai dari durasi, urutan adegan, hingga teks pada thumbnail.
Sabila mengakui pandangannya tentang editing berubah setelah ia terjun langsung. Ia semula menganggap editing hanya urusan memotong klip video.
"Setelah menjalaninya, saya paham bahwa penyuntingan gambar punya seni bercerita atau storytelling. Kita harus pandai memilih momen, menyesuaikan ritme visual, dan merapikan audio agar pesan edukasi dari materi kelas sampai ke audiens dengan nyaman," tutur Sabila.
Pemahaman itu relevan dengan peminatan yang ia tekuni. Dalam Public Relations, konten visual menjadi salah satu alat untuk menyampaikan pesan dan menjaga citra lembaga. Lewat proses memilih momen, mengatur ritme, dan menjaga kualitas audio, Sabila melatih kepekaan yang ia butuhkan sebagai calon praktisi komunikasi.
Dokumentasi Lapangan dan Budaya Magic Words
Sabila tidak hanya bekerja di ruang editing. Ia juga mendampingi dokumentasi di berbagai agenda luar kantor. Dua di antaranya adalah pelatihan Professional Teacher Excellence di Sidoarjo dan program Students Inbound Class di Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Dari pengalaman lapangan tersebut, ia melihat langsung cara strategi komunikasi membangun engagement yang hangat dengan peserta.
Pengalaman di dua lokasi tersebut memperlihatkan kepada Sabila bahwa dokumentasi punya fungsi strategis. Rekaman yang rapi membantu lembaga menunjukkan kegiatannya kepada publik, sementara pengambilan gambar yang tepat menjaga kehangatan suasana kegiatan.
Kerja di lapangan menuntut Sabila memahami jalannya acara, membaca situasi, dan menangkap momen yang layak masuk dokumentasi. Hasil rekaman itu kemudian ia bawa ke ruang editing untuk diolah menjadi konten yang siap dipublikasikan. Alur kerja dari lokasi acara sampai unggahan media sosial membuatnya mengenal seluruh tahapan produksi konten.
Selain mengasah keterampilan teknis, lingkungan kerja Kahaf Brothers menanamkan nilai profesionalisme yang kuat. Seluruh anggota tim membiasakan magic words, yakni tolong, maaf, terima kasih, dan permisi, dalam keseharian. Kebiasaan sederhana itu menjadi budaya harian yang membentuk etika berkomunikasi di lingkungan kerja.
Bekal yang Sabila bawa pulang mencakup kemampuan teknis penyuntingan, pemahaman alur produksi konten, dan etika berkomunikasi. Ketiganya menjadi modal untuk melangkah ke industri komunikasi profesional. Sabila menyiapkan diri sejak bangku kuliah agar siap menghadapi tuntutan dunia kerja.
Melalui program magang ini, Sabila merasa mendapat bekal berharga untuk menghadapi tantangan di industri komunikasi profesional. Ia menilai efektivitas komunikasi bergantung pada dua hal sekaligus, yaitu tampilan di media sosial dan sikap saat berinteraksi.
"Saya belajar bahwa komunikasi yang efektif mencakup
apa yang kita tampilkan di media sosial dan juga sikap serta kepribadian kita
saat berinteraksi di lapangan," pungkasnya.

Social Header