Gresik – Upaya mendukung modernisasi sektor pertanian dilakukan mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya melalui demonstrasi penggunaan alat penanam biji jagung modern kepada petani di Desa Gedangan, Kecamatan Sidayu, Kabupaten Gresik, pada Juli 2026. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari program pengabdian kepada masyarakat yang dijalankan Sub Kelompok 1 KKN Reguler 28 Untag Surabaya.

Desa Gedangan dikenal sebagai salah satu wilayah yang mayoritas masyarakatnya menggantungkan mata pencaharian pada sektor pertanian, khususnya budidaya jagung. Hingga kini, proses penanaman masih didominasi penggunaan tugal, alat tradisional berbentuk kayu runcing yang digunakan untuk membuat lubang tanam sebelum benih dimasukkan secara manual.

Metode tersebut dinilai membutuhkan waktu lebih lama dan tenaga yang lebih besar karena petani harus membuat lubang tanam sekaligus memasukkan benih secara terpisah. Selain itu, posisi kerja yang terus-menerus membungkuk berpotensi menimbulkan kelelahan hingga keluhan pada bagian punggung. Jarak maupun kedalaman tanam juga sering kali tidak seragam sehingga dapat memengaruhi pertumbuhan tanaman.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa memperkenalkan alat penanam biji jagung modern yang mampu menggabungkan proses pembuatan lubang tanam dan penyaluran benih dalam satu mekanisme kerja. Alat tersebut memiliki rangka besi yang dilengkapi wadah benih (hopper), mekanisme penyalur benih, mata tanam, roda penggerak, serta pegangan ergonomis sehingga dapat dioperasikan hanya oleh satu orang.

Pada sesi demonstrasi, mahasiswa memperlihatkan secara langsung perbedaan proses penanaman menggunakan tugal manual dengan alat modern tersebut. Cukup dengan mendorong alat dan menggerakkan tuas, lubang tanam terbentuk secara otomatis sekaligus menyalurkan benih ke dalam tanah. Cara kerja ini dinilai mampu mempercepat proses tanam sekaligus menghasilkan jarak tanam yang lebih rapi.

Salah satu pelaksana kegiatan, Adventius Poetra Setiawan dari Program Studi Teknik Informatika Untag Surabaya, mengatakan inovasi tersebut diperkenalkan untuk membantu pekerjaan petani tanpa menghilangkan metode yang selama ini telah digunakan.

"Kami melihat petani di sini masih mengandalkan tugal manual yang membutuhkan tenaga dan waktu lebih banyak. Alat ini kami hadirkan bukan untuk menggantikan cara bertani yang sudah ada, melainkan membantu agar proses tanam lebih cepat, jarak tanam lebih seragam, dan petani tidak perlu terus-menerus bekerja dalam posisi membungkuk," ujarnya.

Adventius menambahkan, alat tersebut dirancang menggunakan material yang mudah ditemukan di pasaran dengan biaya pembuatan yang relatif terjangkau. Dengan demikian, kelompok tani diharapkan dapat mereplikasi maupun mengembangkan alat secara mandiri setelah program KKN berakhir.

Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) KKN Reguler 28 Untag Surabaya, Salsabila Ratu Kencana Syaharani, S.Psi., M.Psi., menilai kegiatan ini menjadi contoh kolaborasi lintas disiplin ilmu dalam menghadirkan teknologi tepat guna yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.

"Alat ini memang sederhana, tetapi memiliki potensi besar apabila terus disempurnakan dan digunakan secara konsisten. Harapannya, petani dapat bekerja lebih efisien sekaligus mengurangi beban fisik saat proses penanaman. Inilah bentuk pengabdian yang kami dorong, yaitu menghasilkan solusi yang benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat," jelasnya.

Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Desa Gedangan, Ikhsan Sholeh, mengapresiasi inovasi yang dibawa mahasiswa KKN Untag Surabaya. Menurutnya, alat tersebut dapat menjadi inspirasi bagi petani dalam memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan efisiensi kegiatan bercocok tanam.

Meski demikian, para petani juga memberikan sejumlah masukan berdasarkan hasil uji coba di lapangan. Salah satunya berkaitan dengan tinggi alat yang dinilai masih perlu disesuaikan agar pengguna tidak perlu terlalu membungkuk saat mengoperasikannya.

"Petani menilai alat ini masih perlu penyempurnaan pada bagian tinggi alat karena saat digunakan sebagian pengguna masih harus membungkuk. Masukan seperti ini penting agar alat semakin nyaman digunakan," kata Ikhsan.

Antusiasme peserta terlihat saat mereka bergantian mencoba alat tersebut dan membandingkan hasilnya dengan metode tugal yang biasa digunakan. Untuk mengukur tingkat pemahaman, mahasiswa juga memberikan post-test kepada 30 peserta mengenai penggunaan alat penanam biji jagung modern, alat penebar pupuk, serta alat pengukur kelembapan digital. 

Hasil evaluasi menunjukkan seluruh indikator pemahaman peserta mencapai 100 persen, mulai dari fungsi alat, manfaatnya dalam mempercepat proses tanam, kemudahan pengoperasian oleh satu orang, hingga kemampuannya menghasilkan jarak tanam yang lebih seragam.

Hasil uji lapangan juga menunjukkan masih terdapat beberapa aspek yang perlu disempurnakan. Kinerja alat cenderung menurun pada lahan yang keras, berbatu, atau dipenuhi sisa tanaman karena mata tanam mengalami hambatan. 

Selain itu, ukuran benih jagung yang tidak seragam turut memengaruhi jumlah benih yang keluar pada setiap lubang tanam. Penyempurnaan pada bagian mata tanam dan mekanisme penyalur benih diharapkan dapat meningkatkan performa alat sehingga mampu mendukung penerapan teknologi pertanian yang lebih efektif bagi petani Desa Gedangan.