Gresik - Gabah, jagung, dan kacang yang baru dipanen sering kali masih menyimpan kadar air tinggi. Jika langsung disimpan tanpa pengukuran yang tepat, hasil panen berisiko cepat berjamur, berubah warna, bahkan membusuk sebelum sempat dijual. Persoalan sederhana namun krusial inilah yang menjadi perhatian program pengabdian kepada masyarakat mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya di Desa Gedangan, Kecamatan Sidayu, Kabupaten Gresik.

Dalam kegiatan yang berlangsung pekan ini, Mahsa selaku mahasiswa Universitas 17 Agustus Surabaya menjelaskan secara rinci cara kerja alat ukur kadar air kepada para petani setempat. Alat ini bekerja dengan cara sederhana: sampel gabah, jagung, atau kacang cukup dimasukkan ke dalam alat, dan dalam hitungan detik layar akan menampilkan persentase kadar air di dalamnya. Mahasiswa memaparkan tahap demi tahap penggunaannya, mulai dari cara mengambil sampel yang representatif, cara membaca angka pada layar, hingga cara membersihkan dan merawat alat agar hasil pengukurannya tetap akurat.

Salah satu petani yang menyimak penjelasan tersebut mengaku baru memahami cara kerja alat itu secara jelas. “Selama ini kami cuma dikretek pakai gigi atau ditekan pakai tangan untuk tahu gabah sudah kering apa belum. Kalau bunyinya sudah nyaring, dianggap kering.,” ujarnya.

Mahsa menegaskan “bahwa tujuan pengenalan alat ini bukan untuk menggantikan cara konvensional yang selama ini sudah dipraktikkan turun-temurun oleh petani, seperti mengecek kadar air lewat suara saat gabah dikretek atau ditekan dengan tangan”. Sebaliknya, alat ukur digital ini dimaksudkan untuk melengkapi dan mengkolaborasikan metode konvensional tersebut, sehingga perkiraan yang selama ini bersifat berdasarkan pengalaman dapat divalidasi kembali dengan angka yang pasti dan terukur.

Sebagai bagian dari penjelasan, Mahsa turut mendemonstrasikan langkah-langkah pengukuran menggunakan sampel gabah dan biji jagung yang dibawa langsung ke lokasi. Setiap sampel dimasukkan satu per satu ke dalam alat di hadapan para petani, sehingga proses pengukuran dari awal hingga angka kadar air muncul di layar dapat disaksikan secara langsung. Melalui demonstrasi ini, petani diharapkan dapat lebih memahami langkah teknis penggunaan alat, mulai dari cara memasukkan sampel hingga cara membaca hasil pengukuran, sehingga ke depannya dapat mempraktikkannya secara mandiri.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program pengabdian kepada masyarakat yang dibimbing oleh Salsabila Ratu Kencana Syaharani, S.Psi., M.Psi. Menurutnya, pendampingan semacam ini penting agar teknologi yang sebenarnya sederhana dapat benar-benar sampai dan dipahami oleh petani, bukan sekadar diperkenalkan sekilas lalu ditinggalkan.

"Program pengabdian ini bukan hanya soal memperkenalkan alat, tapi bagaimana mahasiswa bisa menjelaskan sesuatu yang teknis dengan cara yang benar-benar dipahami masyarakat. Kalau petani sampai mengerti manfaatnya dan mau mencoba menerapkannya sendiri setelah kami pulang, di situlah tujuan pengabdian ini sebenarnya tercapai," ujar bu Salsa

Menurut Mahsa, kegiatan ini juga menjadi pengalaman berharga untuk belajar berkomunikasi langsung dengan masyarakat desa, memahami kebutuhan nyata di lapangan, sekaligus melatih kemampuan menjelaskan hal teknis dengan bahasa yang mudah dipahami oleh warga dari berbagai latar belakang usia dan pendidikan.

Ke depan, diharapkan penggunaan alat ukur kadar air ini dapat terus dilanjutkan secara mandiri oleh petani Desa Gedangan, sehingga hasil panen gabah, jagung, dan kacang dapat disimpan lebih optimal, mengurangi risiko kerugian akibat pembusukan, dan pada akhirnya turut mendukung kesejahteraan petani setempat.