Mahasiswa Untag Surabaya, Gita Silvia Ramadhani saat melakukan live streaming acara buka bersama di kediaman Walikota Surabaya.

Surabaya - Rapat kerja pejabat pemerintah, forum konsultasi publik, hingga kegiatan sosial walikota kini bisa disaksikan siapa saja secara langsung lewat YouTube. Di balik siaran-siaran itu, ada tim produksi yang bekerja jauh sebelum kamera menyala, mahasiswa magang mulai menjadi bagian dari tim tersebut.

Dalam beberapa tahun terakhir, live streaming bukan lagi milik konten kreator atau platform hiburan semata. Pemerintah daerah di berbagai kota Indonesia, termasuk Surabaya, mulai serius memanfaatkan teknologi siaran langsung sebagai instrumen transparansi dan keterbukaan informasi publik.

Tren ini bukan tanpa dasar. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik mewajibkan lembaga negara untuk proaktif menyebarkan informasi kepada masyarakat. Live streaming menjadi salah satu cara paling efektif untuk memenuhi kewajiban, siapa saja bisa menyaksikan rapat, forum, hingga kegiatan sosial pemerintah secara langsung dari genggaman tangan.

Dinkominfo Kota Surabaya adalah salah satu instansi yang telah menjalankan praktik ini secara sistematis. Mulai dari forum konsultasi publik Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD), rapat kerja lintas dinas, kegiatan sosial walikota, hingga kolaborasi internasional, semuanya disiarkan langsung melalui kanal YouTube resmi pemerintah kota.

“Ini bukan sekadar soal teknologi. Ini soal kepercayaan publik,” kata Arif Kusuma Ardiansyah, S.Kom., Ketua Tim Kerja Pengelolaan Data Statistik sekaligus koordinator divisi live streaming Dinkominfo Surabaya. Menurutnya, ketika masyarakat bisa menyaksikan langsung jalannya pemerintahan tanpa filter, kepercayaan terhadap institusi pemerintah bisa tumbuh lebih organik.

Bukan Sekedar Nyalakan Kamera

Yang kerap luput dari perhatian publik adalah betapa kompleksnya proses di balik siaran langsung pemerintahan. Berbeda dari live streaming spontan di media sosial, produksi live streaming institusional menuntut standar profesional yang ketat.

Gita Silvia Ramadhani, mahasiswi Ilmu Komunikasi peminatan Broadcasting dari Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Surabaya, merasakannya langsung selama 11 minggu magang di Dinkominfo Surabaya (5 Januari – 20 Maret 2026).

“Saya kira live streaming itu tinggal nyalakan kamera dan tekan tombol mulai. Ternyata jauh lebih kompleks dari itu,” ungkap Gita.

Ia belajar bahwa setiap siaran dimulai jauh sebelum kamera menyala. Survei lokasi dilakukan untuk memetakan kekuatan sinyal internet, sumber listrik, akustik ruangan, hingga posisi cahaya alami. Rundown acara dikoor­dinasikan dengan narasumber. Peralatan mulai dari encoder, switcher, wireless microphone, hingga tripod harus dicek satu per satu.

Saat produksi berlangsung, tim harus mampu mengelola multiple camera angle secara bersamaan, memantau kualitas audio, menjaga kestabilan koneksi, dan siap menangani kendala teknis dalam hitungan detik, karena siaran langsung tidak mengenal kata “ulangi.”

Pasca-siaran pun bukan soal tinggal pulang. Tim harus mendokumentasikan hasil, mengevaluasi kualitas siaran, dan mengarsipkan konten untuk keperluan transparansi publik jangka panjang.

Gap yang Perlu Dijembatani

Pengalaman Gita membuka satu pertanyaan penting: seberapa siap perguruan tinggi mencetak tenaga komunikasi yang mampu bekerja di ekosistem digital pemerintahan yang terus berkembang ini?

Program studi Ilmu Komunikasi di banyak kampus masih dominan pada pendekatan teoritis, teori media, teori komunikasi publik, teori jurnalistik. Sementara di lapangan, kebutuhan sudah bergeser ke arah yang sangat teknis dan operasional, seperti penguasaan encoder streaming, manajemen platform digital, pemahaman analitik konten, hingga kemampuan problem-solving real-time.

Kurikulum Outcome-Based Education (OBE) yang diterapkan UNTAG Surabaya berupaya menjawab gap ini dengan mendorong mahasiswa terjun langsung ke dunia kerja melalui program magang terstruktur. Hasilnya, mahasiswa seperti Gita tidak hanya mendapat pengalaman, tetapi juga portofolio nyata yang relevan dengan kebutuhan industri.

Namun ini bukan tantangan yang bisa diselesaikan oleh satu kampus saja. Dibutuhkan ekosistem kolaborasi yang lebih luas antara institusi pendidikan, pemerintah daerah, dan industri media agar tenaga komunikasi digital yang lahir dari kampus benar-benar siap mengisi kebutuhan yang terus tumbuh.

Moment yang Tak Terlupakan

Di antara puluhan kegiatan yang ia dokumentasikan, Gita mengaku ada satu momen yang paling membekas yaitu acara buka bersama anak yatim piatu di rumah dinas Walikota Surabaya.

“Di situ saya sadar, pekerjaan ini bukan cuma soal teknis. Ini soal mengabadikan momen yang bermakna. Kalau dokumentasi ini suatu hari dilihat lagi oleh anak-anak itu, semoga bisa jadi kenangan yang indah buat mereka,” tuturnya.

Selama 11 minggu, Gita terlibat dalam lebih dari 15 kegiatan siaran langsung, menghasilkan lebih dari 50 dokumentasi foto, membuat video behind the scenes produksi live streaming, serta menulis artikel refleksi pengalaman magang. Pembimbing lapangannya memberikan nilai sempurna 100 untuk kategori Tanggung Jawab, Etika Kerja, dan Ketepatan Melaksanakan Pekerjaan.

Komunikasi Publik Digital: Peluang yang Terbuka Lebar

Tren live streaming pemerintahan bukan fenomena sesaat. Seiring meningkatnya penetrasi internet dan ekspektasi masyarakat terhadap transparansi, kebutuhan akan tenaga produksi konten digital di sektor publik justru akan terus bertumbuh.

Ini adalah peluang nyata bagi mahasiswa komunikasi, broadcasting, dan bidang terkait untuk mengambil peran strategis bukan hanya sebagai kreator konten hiburan, tetapi sebagai bagian dari ekosistem komunikasi publik yang sehat dan akuntabel.

Seperti yang dibuktikan Gita bahwa ruang belajar terbaik tidak selalu berbentuk ruang kelas. Kadang ia hadir dalam bentuk layar monitor berisi dasbor YouTube Studio, dan kamera yang menunggu untuk dinyalakan.

Penulis: Gita Silvia Ramadhani, mahasiswi Ilmu Komunikasi FISIP Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya, peserta magang Dinkominfo Kota Surabaya periode Januari–Maret 2026.

Dosen Pembimbing: A.A.I Prihandari Satvika Dewi, S.Sos., M.Med.Kom

#KomunikasiUntag #UnderstandingEmpowering #KitaUntagSurabaya #UntukIndonesia #UntagSurabayaKeren #EcoCampus #KampusKompeten