Globalisasi merupakan proses meningkatnya interdependensi antara aktor negara dan non-negara pada skala global, sehingga hubungan sosial dalam suatu masyarakat secara signifikan dibentuk dan dipengaruhi dimensi hubungan sosial yang lebih luas pada skala dunia. 

Dalam konteks ini, saya Fanesya Trifiani Kamilah, sebagai mahasiswa pada mata kuliah Sistem Komunikasi Indonesia kelas D yang diampu oleh Drs. Widiyatmo Ekoputro, M.A., memandang bahwa perkembangan globalisasi telah membawa perubahan besar dalam sistem komunikasi di Indonesia. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang sangat pesat membuat arus informasi menjadi semakin cepat, luas, dan tanpa batas. 

Hal ini memberikan banyak peluang sekaligus tantangan bagi sistem komunikasi di Indonesia dalam menjaga kualitas informasi serta mempertahankan identitas budaya bangsa. Selain itu, globalisasi juga mendorong munculnya berbagai platform digital dan media sosial yang memungkinkan masyarakat Indonesia untuk berpartisipasi aktif dalam produksi dan distribusi informasi. 

Di satu sisi, hal ini memperkaya keragaman perspektif dan memperkuat demokratisasi komunikasi. Namun, di sisi lain juga, fenomena seperti penyebaran hoaks, disinformasi, dan budaya instan ini menjadi sebuah tantangan cukup serius yang harus dihadapi (Idris, 2022). 

Salah satu tantangan utama dalam sistem komunikasi Indonesia di era globalisasi adalah maraknya penyebaran informasi yang tidak terverifikasi atau hoaks. 

Kemudahan akses terhadap media sosial dan platform digital membuat siapa saja dapat menyebarkan informasi tanpa melalui proses penyaringan yang ketat. Akibatnya, masyarakat sering kali menerima informasi yang tidak akurat yang dapat menimbulkan kesalahpahaman, konflik sosial, hingga perpecahan. 

Oleh karena itu, diperlukan literasi digital yang kuat agar masyarakat mampu memilah informasi yang benar dan tidak mudah terprovokasi. Selain peningkatan literasi digital, peran pemerintah dan lembaga terkait juga sangat penting dalam mengatasi penyebaran hoaks melalui penguatan regulasi dan penegakan hukum yang tegas terhadap pelaku penyebar informasi palsu. 

Di samping itu, platform media sosial perlu meningkatkan sistem moderasi konten serta bekerja sama dengan pihak independen untuk melakukan verifikasi fakta (Dewi, 2023). 

Selain itu, tantangan lainnya adalah dominasi budaya asing dalam konten komunikasi. Globalisasi memungkinkan masuknya berbagai budaya dari luar yang dengan mudah memengaruhi pola komunikasi masyarakat Indonesia, terutama generasi muda. Jika tidak disikapi dengan bijak, hal ini dapat mengikis nilai-nilai budaya lokal dan jati diri bangsa. 

Sistem komunikasi Indonesia perlu berperan aktif dalam mempromosikan konten-konten lokal yang edukatif dan berbudaya agar tetap mampu bersaing di tengah arus global. Upaya tersebut juga perlu didukung dengan penguatan industri kreatif lokal agar mampu menghasilkan konten yang tidak hanya berkualitas, tetapi juga relevan dengan perkembangan zaman dan diminati oleh generasi muda. Kreator konten, sinema, dan pelaku media di Indonesia didorong untuk mengangkat kearifan lokal dalam bentuk yang inovatif dan menarik, sehingga nilai-nilai budaya dapat disampaikan secara efektif melalui media modern (Rofiah, 2024). 

Di sisi lain, perkembangan teknologi juga memberikan harapan besar bagi sistem komunikasi di Indonesia. Kemajuan internet, media sosial, dan platform digital lainnya membuka peluang untuk memperluas jangkauan komunikasi hingga ke daerah terpencil. 

Hal ini dapat meningkatkan pemerataan informasi dan memperkuat integrasi nasional. Pemerintah dan berbagai pihak dapat memanfaatkan teknologi ini untuk menyampaikan informasi penting secara cepat dan efisien kepada masyarakat luas. 

Akan tetapi, pemanfaatan teknologi komunikasi tersebut perlu diimbangi dengan pembangunan infrastruktur yang merata serta peningkatan kualitas sumber daya manusia di bidang digital. Tanpa dukungan akses internet yang stabil dan terjangkau di seluruh wilayah, terutama di daerah terpencil, kesenjangan digital akan tetap terjadi (Purwanto, 2025). 

Harapan lainnya adalah meningkatnya partisipasi masyarakat dalam proses komunikasi publik. Dengan adanya media digital, masyarakat tidak lagi hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga dapat berperan sebagai penyampai informasi. 

Hal ini dapat mendorong terciptanya komunikasi dua arah yang lebih demokratis dan transparan. Namun, partisipasi ini harus diimbangi dengan tanggung jawab dalam menyampaikan informasi yang benar dan tidak merugikan pihak-pihak yang berkaitan atau pihak yang lain. 

Untuk menghadapi tantangan dan mewujudkan harapan tersebut, diperlukan kerja sama antara pemerintah, lembaga pendidikan, media, dan masyarakat. Pemerintah perlu memperkuat regulasi terkait penyebaran informasi digital serta meningkatkan pengawasan terhadap konten yang beredar. 

Lembaga pendidikan berperan dalam meningkatkan literasi digital masyarakat sejak dini. Media massa juga harus menjaga profesionalisme dalam menyajikan informasi yang akurat dan berimbang. 

Selain itu, masyarakat juga memiliki peran yang tidak kalah penting dalam menciptakan ekosistem komunikasi yang sehat dengan bersikap kritis, bertanggung jawab, dan bijak dalam menggunakan media digital. 

Setiap individu diharapkan tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga mampu menjadi penyaring sekaligus penyebar informasi yang positif dan bermanfaat (Aswanti, 2026). 

Jadi, sistem komunikasi Indonesia di era globalisasi harus mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi tanpa kehilangan jati diri bangsa. Tantangan yang ada harus dijadikan sebagai motivasi untuk terus memperbaiki kualitas komunikasi, sementara peluang yang tersedia harus dimanfaatkan secara maksimal. 

Jika hal ini dapat dilakukan dengan baik, maka sistem komunikasi Indonesia akan menjadi lebih kuat, modern, dan tetap berlandaskan nilai-nilai budaya bangsa. 

Informasi Penulis
  • Nama : Fanesya Trifiani Kamilah 
  • Dosen Pengampu : Drs. Widiyatmo Ekoputro, M.A.