Peristiwa tragis yang terjadi di Surabaya baru-baru ini menjadi pengingat bahwa persoalan kesehatan mental masih menjadi isu yang belum sepenuhnya mendapatkan perhatian serius di masyarakat. Seorang pemuda yang tampak menjalani aktivitas seperti biasa, justru menyimpan beban yang tidak terlihat hingga berujung pada keputusan yang mengakhiri hidupnya. Kejadian ini bukan sekadar insiden, melainkan cerminan dari realitas yang lebih luas dan dekat dengan kehidupan kita sehari-hari.

Berdasarkan kronologi yang beredar, tidak tampak tanda-tanda mencolok dari perilaku korban sebelum kejadian. Ia datang ke sebuah kafe, memesan makanan, dan sempat menikmati hidangannya. Semua terlihat normal. 

Namun, di balik normalitas tersebut, bisa saja terdapat pergulatan batin yang tidak pernah terungkap. Fenomena ini menegaskan bahwa kesehatan mental tidak selalu tampak di permukaan. Seseorang dapat tersenyum, beraktivitas, bahkan berinteraksi seperti biasa, tetapi tetap berada dalam kondisi yang rapuh.

Kondisi ini diperparah oleh masih rendahnya literasi masyarakat mengenai kesehatan mental. Stigma yang melekat membuat banyak individu enggan untuk berbicara tentang apa yang mereka rasakan. Tidak sedikit yang takut dianggap lemah, berlebihan, atau bahkan diabaikan. 

Akibatnya, mereka memilih untuk memendam masalah sendiri hingga mencapai titik di mana tekanan tersebut tidak lagi dapat ditanggung.

Di sisi lain, dinamika kehidupan modern yang semakin cepat dan individualistis turut mempersempit ruang bagi interaksi yang bermakna. Hubungan sosial sering kali terbatas pada hal-hal permukaan, tanpa benar-benar memahami kondisi emosional satu sama lain. 

Padahal, perhatian sederhana seperti mendengarkan dengan empati, menanyakan kabar dengan tulus, atau sekadar hadir tanpa menghakimi dapat menjadi bentuk dukungan yang sangat berarti.

Lebih dari itu, penting untuk disadari bahwa mencari bantuan bukanlah tanda kelemahan, melainkan bentuk keberanian. Akses terhadap layanan kesehatan mental seperti psikolog dan konselor perlu terus diperluas, disertai dengan edukasi yang berkelanjutan agar masyarakat lebih terbuka dalam memahami pentingnya kesehatan mental. Lingkungan yang suportif baik di keluarga, pendidikan, maupun pergaulan menjadi kunci agar setiap individu merasa aman untuk berbagi.

Peristiwa ini seharusnya tidak berhenti sebagai berita semata. Ia harus menjadi momentum refleksi bersama bahwa di tengah kesibukan dan rutinitas, kepedulian terhadap sesama tidak boleh diabaikan. Kita tidak pernah benar-benar tahu apa yang sedang diperjuangkan seseorang dalam diam. Oleh karena itu, membangun kepekaan sosial bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan.

Pada akhirnya, tulisan ini mengajak kita semua untuk lebih peduli tidak hanya kepada orang lain, tetapi juga kepada diri sendiri. Karena tidak semua yang terlihat baik-baik saja benar-benar baik. Dan terkadang, satu perhatian kecil dapat menjadi alasan bagi seseorang untuk tetap bertahan.

Informasi Penulis

Eka Nurfita Wulandari 1152500101 - guna memenuhi tugas mata kuliah Bahasa Indonesia / Kelas C Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya, di bawah bimbingan Dheny Jatmiko, S.Hum,MA