Mediamassa.co.id – Harga beras di pasar masih tinggi meski stok nasional berlimpah. Kondisi ini memicu pertanyaan publik dan sorotan DPR RI. Padahal, cadangan beras pemerintah di gudang Bulog mencapai lebih dari 4 juta ton.
Stok Beras Nasional Melimpah, Tapi Harga Tak Kunjung Turun
Menurut data Perum Bulog, hingga akhir Juni 2025, cadangan beras pemerintah mencapai sekitar 4,2 juta ton. Produksi beras juga terus meningkat, mencapai lebih dari 35 juta ton per tahun. Namun, realitas di pasar berbeda: harga beras terus naik, bahkan melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET).
Anomali Harga Beras: Stok Banyak, Harga Naik
Menteri Pertanian Amran Sulaiman menyebut kenaikan harga ini sebagai anomali. Di sisi lain, harga gabah di tingkat petani justru stagnan atau turun. Ini mengindikasikan adanya masalah dalam rantai distribusi dan pengawasan harga.
Distribusi Tersendat dan Minim Operasi Pasar
Penyerapan besar-besaran oleh Bulog tidak diimbangi dengan pelepasan stok ke pasar. Penggilingan dan distributor swasta kekurangan pasokan, sementara permintaan tetap tinggi. Akibatnya, harga beras di pasaran melambung.
DPR meminta pemerintah segera mempercepat operasi pasar dan membuka keran distribusi beras Bulog ke pasar tradisional dan ritel.
Dugaan Manipulasi Data dan Pelanggaran HET
Pemerintah juga menemukan adanya praktik curang di pasar, mulai dari berat kemasan tidak sesuai, kualitas rendah, hingga harga jual melebihi HET. Bahkan, data stok di Pasar Induk Cipinang terindikasi dimanipulasi untuk menekan pasokan secara artifisial.
Langkah Pemerintah Atasi Harga Beras Naik
Beberapa langkah yang disiapkan pemerintah untuk meredam lonjakan harga beras:
• Menyalurkan 1,3 juta ton beras melalui operasi pasar SPHP.
• Menyalurkan 360 ribu ton beras bansos hingga akhir tahun.
• Menindak tegas pelaku usaha yang melanggar ketentuan HET dan mutu beras.
Kenaikan harga beras di tengah stok melimpah dipicu oleh distribusi yang tersendat, dugaan manipulasi stok, dan lemahnya pengawasan harga di pasar. Pemerintah diminta bertindak cepat agar harga beras kembali stabil dan masyarakat tidak terus terbebani.
(Red)
0 Komentar