Mediamassa.co.id – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Subang mencatat lonjakan kasus HIV di kalangan komunitas laki-laki suka laki-laki (LSL) atau gay. Hingga pertengahan 2025, sebanyak 94 orang dari komunitas LSL di daerah tersebut dinyatakan positif HIV, dan sebagian besar di antaranya masih berusia di bawah 30 tahun.
Data ini diperoleh dari hasil penjangkauan terhadap 1.098 anggota komunitas LSL. Namun Dinkes memperkirakan jumlah komunitas ini mencapai sekitar 6.000 orang, yang berarti masih banyak potensi kasus yang belum terdeteksi.
Komunitas LSL Menempati Urutan Kedua Kasus HIV di Subang
Menurut Kepala Dinas Kesehatan Subang, dr Maxi, kelompok LSL berada di peringkat kedua sebagai penyumbang kasus HIV tertinggi, setelah pekerja seks komersial (PSK). Angka ini diperoleh dari pelacakan intensif yang bahkan mencakup aktivitas komunitas tersebut di grup Facebook.
“Banyak dari mereka yang aktif secara seksual di usia muda dan tidak menggunakan pengaman,” ujar dr Maxi, dikutip dari MetroTVNews, Rabu (10/7/2025).
Layanan ARV Kini Tersedia di Puskesmas
Untuk menekan penyebaran virus, Dinkes Subang telah memperluas pelayanan pengobatan HIV/AIDS. Jika sebelumnya terapi antiretroviral (ARV) hanya tersedia di rumah sakit, kini bisa diakses melalui Puskesmas melalui layanan Perawatan, Dukungan, dan Pengobatan (PDP).
Puskesmas Pamanukan: melayani lebih dari 500 pasien
Puskesmas Jalancagak: menangani 98 pasien HIV
Pencegahan HIV dengan Metode ABCDE
Dinkes Subang juga terus mengedukasi masyarakat mengenai strategi pencegahan HIV dengan pendekatan ABCDE, yakni:
• Abstinence (tidak melakukan hubungan seks berisiko)
• Be faithful (setia pada pasangan)
• Condom (gunakan kondom)
• Don’t use drugs (hindari narkoba suntik)
• Education (edukasi sejak dini)
Himbauan untuk Tidak Menstigma
dr Maxi menegaskan bahwa HIV tidak menular melalui aktivitas sosial seperti bersalaman, berenang, atau berbagi alat makan. Penularan hanya terjadi lewat:
• Hubungan seksual berisiko
• Penggunaan jarum suntik bersama
• Transmisi dari ibu ke anak
“Yang dibutuhkan adalah kolaborasi dan kepedulian, bukan stigma. Karena dengan pengobatan rutin, penderita HIV tetap bisa hidup sehat dan produktif,” jelasnya.
(Red)
0 Komentar