Pernahkah kita mengalami saat sedang duduk bersama teman atau keluarga, tetapi justru sibuk melihat layar ponsel masing-masing? Ada yang asyik scrolling TikTok, membalas pesan di WhatsApp, ataupun memeriksa unggahan terbaru di Instagram. Secara fisik kita berada di tempat yang sama, tetapi perhatian kita justru tertuju ke tempat lain.
Fenomena seperti ini semakin akrab dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Media sosial telah menjadi bagian dari keseharian, terutama bagi generasi muda sekarang. Namun, di balik kemudahan yang ditawarkan, muncul pertanyaan yang patut kita renungkan: apakah semakin mudah kita terhubung melalui internet, semakin baik pula kualitas hubungan kita dengan orang-orang di sekitar?
Ketika Dunia Terasa Lebih Dekat
Tidak dapat dimungkiri, media sosial membawa banyak manfaat. Kita bisa berkomunikasi dengan teman yang tinggal di luar kota, bertukar kabar dengan keluarga yang jauh, bahkan menjalin pertemanan dengan orang yang belum pernah ditemui secara langsung. Jarak bukan lagi hambatan besar untuk saling terhubung.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita bisa melihat bagaimana media sosial telah menjadi bagian dari kebiasaan masyarakat indonesia. Mulai dari berbagai kabar melalui WhatsApp, mengunggah aktivitas di Instagram, hingga mencari hiburan atau inspirasi melalui Tiktok. Semua itu membuat komunikasi terasa lebih praktis dan cepat.
Besarnya peran internet dalam kehidupan masyarakat Indonesia terlihat dari hasil survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2024. Dalam survei tersebut, APJII mencatat jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai sekitar 221,56 juta orang, dengan tingkat penetrasi sebesar 79,5 persen. Data tersebut menunjukkan luasnya penggunaan internet di Indonesia
Tetapi, kemudahan untuk terhubung tidak selalu berarti kita benar-benar dekat secara emosional. Membalas pesan dengan cepat memang bisa menjadi bentuk perhatian, tetapi mendengarkan cerita seseorang secara langsung juga memiliki nilai yang tidak kalah penting.
Dekat Secara Fisik, Jauh Secara Perhatian
Masalahnya bukan semata-mata pada penggunaan media sosial, melainkan pada bagaimana kita menggunakannya. Bayangkan ketika seseorang sedang bercerita tentang masalahnya, tetapi lawan bicaranya justru lebih sibuk melihat notifikasi di ponsel. Mungkin orang tersebut masih berada di samping kita, tetapi perhatian yang diharapkan justru tidak didapatkan.
Situasi serupa bisa terjadi saat makan bersama keluarga, berkumpul dengan teman, atau menghabiskan waktu bersama pasangan. Momen yang seharusnya menjadi kesempatan untuk berbincang dan bertukar cerita justru dipenuhi aktivitas digital masing-masing.
Menurut saya, kebiasaan tersebut perlu menjadi bahan introspeksi. Kita sering merasa sudah menjaga hubungan karena rutin mengirim pesan atau menyukai unggahan teman. Padahal, hubungan sosial juga membutuhkan waktu, perhatian, dan kesediaan untuk mendengarkan secara langsung.
Tentu saja, tidak semua orang yang menggunakan ponsel saat berkumpul berarti mengabaikan orang lain. Ada kalanya ponsel digunakan untuk keperluan penting. Namun, jika kebiasaan memeriksa layar ponsel terus-menerus membuat percakapan terputus, kita perlu mengevaluasi cara untuk mengatur perhatian.
Bukan Menjauhi Teknologi, tetapi Menggunakannya dengan Bijak
Lantas, apakah kita harus mengurangi atau bahkan meninggalkan media sosial? Menurut saya, bukan itu solusinya. Teknologi bukan musuh dalam kehidupan sosial. Yang perlu diperbaiki adalah keseimbangan antara komunikasi digital dan interaksi secara langsung atau tatap muka.
Kita bisa memulainya dari hal sederhana, seperti menyimpan ponsel ketika sedang makan bersama, memberikan perhatian penuh saat teman bercerita, atau menyediakan waktu untuk berbincang dengan keluarga tanpa adanya gangguan notifikasi layar ponsel. Langkah kecil ini dapat membantu kita lebih menghargai kehadiran orang lain.
Selain itu, kita juga perlu memahami bahwa jumlah pengikut, tanda suka, dan pesan yang masuk tidak selalu mencerminkan kualitas hubungan sosial. Memiliki banyak koneksi di dunia maya tentu menyenangkan, tetapi hubungan yang baik juga dibangun melalui rasa percaya, kepedulian, dan komunikasi yang tulus.
Pada akhirnya, media sosial memang mampu mendekatkan orang-orang yang berjauhan. Namun, kedekatan dengan orang yang berada di sekitar kita tetap membutuhkan usaha nyata. Jangan sampai kita terlalu sibuk menjaga hubungan di layar hingga lupa merawat hubungan yang ada di hadapan kita.
Sebab, teknologi seharusnya membantu kita membangun hubungan yang lebih baik, bukan membuat kita kehilangan kesempatan untuk hadir bagi orang-orang yang berarti dalam kehidupan kita.
Sumber: https://apjii.or.id/berita/d/apjii-jumlah-pengguna-internet-indonesia-tembus-221-juta-orang
Informasi Penulis
- Nama : Adryan Himawan
- Asal kampus : Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
- Prodi : Ilmu Komunikasi
- Dosen Pengampu : Hajidah Fildzahun Nadhilah Kusnadi, S.Sos., M.A
.jpeg)
Social Header