Media sosial kini menjadi tempat siapa saja melontarkan opini. Di platform X (Twitter), sebuah unggahan yang membandingkan emosi perempuan dan laki-laki memantik perdebatan panjang. Balasan yang muncul justru memperlihatkan luapan emosi dari kelompok yang sama. Salah satu warganet bahkan menyebut perempuan terlalu lemah untuk menghadapi hormon pria. Fenomena ini menarik untuk dikaji karena muncul di ruang publik digital yang ramai pengguna dari berbagai kalangan. 

Pola percakapan seperti ini mencerminkan fenomena mansplaining. Laura Montanaro dalam penelitiannya (2025) mengartikan mansplaining sebagai kondisi ketika "seorang pria menjelaskan hal-hal kepada wanita yang sebenarnya sudah dipahami oleh wanita tersebut."

Persoalannya tidak berhenti di situ. Sebagian warganet memakai faktor biologis dan perubahan hormon perempuan untuk membenarkan kata kasar bernada seksis seperti "jalang" dan "pelacur". Logika ini timpang. Laki-laki juga memiliki dan merasakan dinamika hormonal yang serupa. Tulisan ini mengulas ketimpangan tersebut melalui temuan medis dan teori standpoint.

Hormon Bekerja pada Semua Tubuh

Penelitian medis memang menunjukkan bahwa perempuan mengalami transisi hormonal. Rojas-Zambrano dan rekan (2025) menjelaskan bahwa penurunan fungsi ovarium menjelang menopause menurunkan sekresi estrogen, progesteron, dan testosteron. Barth dan rekan (2015) merujuk temuan Soares dan Zitek (2008) yang mencatat masa pascapersalinan, menopause, dan siklus menstruasi dapat membuat perempuan lebih rentan mengalami gangguan suasana hati.

Tubuh laki-laki ternyata bergantung pada hormon yang sama. Yıldırım dan Kaymak (2020) menemukan enzim aromatase pada sel Sertoli, sel Leydig, hingga spermatozoa. Estrogen berperan penting dalam fungsi testis dan kesuburan pria. Kekurangan estrogen bahkan dapat memicu ketidaksuburan.

Fink dan rekan (1999) juga membuktikan bahwa testosteron dan estrogen meningkatkan reseptor serotonin di otak. Penurunan testosteron pada pria lanjut usia atau kondisi hipogonadisme berkaitan langsung dengan perubahan suasana hati dan emosi. Menurut kajian tersebut, terapi penggantian testosteron mampu memperbaiki mood pria karena hormon ini merangsang produksi reseptor serotonin.

Temuan ini menegaskan bahwa laki-laki dan perempuan sama-sama memiliki estrogen dan testosteron. Perbedaannya terletak pada kadar. Jika dinamika hormonalnya serupa, publik layak bertanya mengapa hanya emosi perempuan yang menjadi sasaran ejekan.

Dalam percakapan di media sosial, pengetahuan sering berubah menjadi alat untuk merendahkan. Sebagian laki-laki yang merasa lebih tahu tentang tubuh perempuan memakai informasi setengah utuh untuk menjatuhkan lawan bicara. Padahal, perempuan dengan pengetahuan yang memadai mampu menjawab argumen tersebut dengan percaya diri.

Standpoint Theory Membaca Relasi Kuasa

Teori standpoint membantu membaca ketimpangan ini. Dr. Merry Fridha Tripalupi (2024) menjelaskan bahwa teori yang berakar pada pemikiran Hegel dan Karl Marx ini memandang tidak ada perspektif tunggal tentang kehidupan sosial dalam masyarakat yang memiliki relasi kuasa. Aktivitas seseorang membentuk identitas, kesadaran, dan pengetahuannya.

Teori ini menyoroti hubungan timbal balik antara kekuasaan dan pengetahuan. Sifatnya heuristik, provokatif, dan emansipatoris. Kaum feminis radikal menjadikannya pijakan untuk mengkritik budaya patriarki yang hadir di ranah domestik maupun publik. Privilese laki-laki dalam pendidikan dan pekerjaan membuat posisi perempuan tertinggal.

Konstruksi maskulinitas dan feminitas ikut memperkuat bias tersebut. Masyarakat menggambarkan perempuan ideal sebagai sosok lembut, sabar, dan penyayang. Sebaliknya, laki-laki ideal harus kuat, rasional, tegas, dan pantang menangis. Masyarakat juga menuntut laki-laki terampil menafkahi keluarga dan aktif bekerja di ranah publik sebagai pilot, insinyur, dokter, atau pemimpin perusahaan. Tripalupi menegaskan bahwa kedua konsep ini merupakan kontrol sosial buatan masyarakat sehingga dapat berubah seiring perkembangan zaman.

Konstruksi inilah yang membuat publik memaklumi gejolak hormon laki-laki sebagai wujud ketangguhan. Sementara itu, ketidakstabilan hormon perempuan berubah menjadi celah untuk merendahkan. Mansplaining dan pelabelan seksis di media sosial lahir dari ketimpangan relasi kuasa, bukan dari perbedaan biologis.

Kesadaran kritis menjadi kunci perubahan. Kamu sebagai pengguna media sosial dapat memulainya dengan menolak ikut menyebarkan label seksis dan berani menegur komentar yang merendahkan perempuan. Pengetahuan dan kesadaran emansipatoris perempuan juga mampu mematahkan dominasi diskusi semacam ini. Selama masyarakat masih mengatur maskulinitas dan feminitas secara kaku, narasi perendahan akan terus berulang. Fakta biologis seharusnya tidak lagi menjadi tameng untuk membenarkan seksisme di ruang digital.

Informasi Penulis

  • Nama: Sinta Dwi Ayu Pitaloka
  • Nim: 1152300255
  • Matkul: Komunikasi Gender H