
Hampir sebagian besar perempuan muda pasti pernah melakukan swafoto di platform TikTok dengan menggunakan filter yang mungkin bisa sedikit merubah wajah menjadi lebih cantik. Lalu setelah itu, kita merasa kurang jika kita tidak menggunakan filter. Sebenarnya perasaan itu bukan hanya sebuah kebetulan, tetapi tumbuh dari pesan yang diulang terus-menerus melalui layar kita. Tentang perempuan yang baru bisa pantas dilihat kalau kulitnya mulus, wajahnya tirus, atau penampilannya yang stand out. Banyak sekali pesan implisit yang hadir melalui video singkat yang bisa ditonton sambil bersantai, sehingga akhirnya kita terbiasa mendapatkan paparan konten dan juga video tentang perempuan-perempuan cantik yang akhirnya menjadi sebuah standar baru bagi kita.
Hal ini juga semakin terasa ketika TikTok pada akhirnya merilis filter Bold Glamour di tahun 2023. Filter ini berbeda dengan filter-filter sebelumnya, filter programmer ini dibantu dengan AI, sehingga hasilnya lebih natural dan tidak tampak seperti filter. Filter ini hanya berusaha memberikan efek mulus dan juga tirus yang tidak berlebihan, sehingga yang menggunakannya tidak seperti menggunakan filter. Perlahan, dampaknya bisa terasa oleh pengguna TikTok. Survei dari City University London yang dikutip oleh CBS News pada tahun 2023 menyebutkan bahwa 90% perempuan berusia 18 sampai 30 tahun menyunting foto mereka karena tekanan standar kecantikan. Penelitian Pescott 2023 atau remaja perempuan menunjukkan pola yang sama, yaitu tentang mereka yang senang dengan diri berfilter dan sedih dengan dirinya yang asli.
Walaupun sebagian orang berkata bahwa standar kecantikan ataupun kecantikan adalah relatif, namun pada akhirnya, standar kecantikan ini bukan hanya sekadar urusan selera. Hal ini juga diperkuat oleh teori feminisme yang dijelaskan oleh Naomi Wolf pada tahun 1990 dalam The Beauty Myth, yang berargumen bahwa standar kecantikan itu bukan hanya tentang estetika tetapi juga alat kontrol sosial. Yang artinya, semakin besar perempuan melangkah, maka semakin besar pula tuntutannya terhadap kecantikan dan visual. Contohnya, ketika seorang perempuan menjadi penyanyi terkenal, maka ia harus menjaga sikap dan juga menjadi tetap sempurna dengan penampilan yang luar biasa sempurna. Hal tersebut menjadikan perempuan serba salah, ketika dia bebas melangkah dan juga bebas bergerak ke jauh maka ada tuntutan sosial yang harus dia bayar, namun ketika ia tak di tempat, maka tentunya sosial itu tetap datang kepadanya.
Di sinilah komunikasi bisa berperan dan sangat penting, sebagaimana dijelaskan pada buku Komunikasi dan Gender tentang media yang bukan cermin yang netral melainkan pembentuk magnet tentang apa artinya menjadi perempuan. Standar kecantikan TikTok pada dasarnya bukanlah sebuah standar yang alamiah terjadi; standar itu dibentuk melalui trend yang berulang, seperti trend rutinitas make up, rutinitas skincare, atau bahkan tutorial-tutorial make up yang pada akhirnya menjadi sebuah halaman normal yang dijadikan standar. Kemudian hal tersebut akan dipertahankan melalui validasi-validasi yang ada di komentar tentang memuji ataupun meminta rekomendasi. Sehingga ketika mereka mengikuti standar kecantikan maka engagement pada akun tersebut bisa meningkat. Hal tersebutlah yang menjadikan banyak sekali perempuan-perempuan yang menggunakan standar kecantikan TikTok sebagai patokan apakah dia pantas dan dia cukup cantik. Karena pada dasarnya algoritma tidak terpilih pada keadilan, tapi yang mengejar perhatian. Bahkan kritik terhadap filter ikut menjadi bahan bakarnya; kontroversi multi glamor justru menghasilkan keterlibatan dan pendapatan iklan bagi platform (Techpolicy.Press, 2023).
Sayangnya, ada beberapa hal yang sering terlupakan oleh kita, yaitu tentang bagaimana standar kecantikan ini dibentuk. Tanda kecantikan ini sejatinya tidak dibentuk secara alamiah, tapi merupakan hasil konstruksi sosial dari masa ke masa. Contohnya, ketika orang berkulit coklat yang dahulu dibenci, sekarang menjadi banyak peminatnya. Hal ini membuktikan bahwa standar kecantikan tergantung bagaimana algoritma pada media sosial sering menampilkan hal-hal tertentu, sehingga dinormalisasikan dan dijadikan sebuah standar baru.
Standar kecantikan ini juga bernilai ekonomis. Terasa kurang percaya diri bisa diubah menjadi permintaan akan produk perawatan, make up, hingga prosedur kecantikan dan kosmetik. Yang pada akhirnya banyak hal-hal yang memang di batas wajar yang dinormalisasikan, seperti halnya suntik putih atau prosedur kecantikan ilegal yang pada akhirnya dinormalisasikan. Jika dilihat dari sisi logika, platform yang dibangun untuk konsumsi tentang perempuan bukan hanya pada penontonnya saja, tetapi juga pada pasar. Semakin kita merasa kurang, semakin besar peluang kita bisa membeli, dan semakin besar juga kita berada dan bertahan pada aplikasi.
Adapun anggapan yang beredar bahwa ini adalah murni pilihan pribadi, namun saya menolak anggapan tersebut, karena pilihan memang ada, tetapi dibuat di lingkungan yang timpang. Ketika tampil sesuai standar berarti bisa dilihat, dipercaya, bahkan dibayar, walaupun menolak bisa punya harga. Miris memang, namun itulah yang terjadi pada saat ini. Hingga pada akhirnya, perempuan pun terjebak dalam posisi yang serba salah, yang tidak merawat diri dicap tidak menarik atau malas, sedangkan yang terlalu sibuk berdandan dicap orang yang dangkal. Tuntutannya selalu ada, memang begitulah dunia bekerja. Hanya penilaian yang berganti-ganti. Kalimat “kamu bebas mau pakai filter atau tidak” terdengar adil, namun mengabaikan bahwa pilihan tersebut sudah diarahkan sejak awal. Meski begitu, perlawanan juga ada; banyak pengguna perempuan yang memakai filter tersebut untuk membicarakan betapa tidak realistisnya standar kecantikan di media sosial (NPR, 2023). Yang artinya, ruang digital bisa dipakai untuk mengkritik, tetapi juga bisa dipakai untuk seseorang yang bisa patuh terhadap algoritma. Namun, adapun tantangan-tantangan seperti suara-suara kritis yang mudah tertimbun oleh arus konten yang terus memproduksi wajah ideal yang sama.
Lalu apa yang harus dilakukan? Pertama, dalam tingkat pengguna, kita perlu literasi media. Biasakan bertanya siapa yang diuntungkan dari tampilan tertentu, lalu atur ulang beranda kita terhadap hal yang lebih beragam. Lalu hindari komentar yang menilai fisik, dan pujilah karya, gagasan, atau cerita seseorang. Creator pun punya tanggung jawab untuk sesekali tampil tanpa filter, bukan sebagai trend jujur-jujuran, tetapi untuk menormalisasikan keberagaman wajah. Kedua, bertingkat platform, label filter harus jelas dan tidak berupa keterangan kecil yang mudah terlewatan dapat disertai pembatas efek pengubah wajah bagi pengguna usia anak. Ketiga, di tingkat sosial, keluarga dan sekolah perlu memasukkan generasi digital dan citra tubuh ke dalam pembelajaran agar remaja mempunyai bekal menghadapi layar yang penuh wajah sempurna. Dengan begitu, mereka tidak hanya belajar untuk menilai tampilan orang lain secara kritis, tetapi juga menghargai tubuhnya sendiri dan meminimalisir rasa insecure pada individu.
Fenomena tentang kecantikan di TikTok sebenarnya bukan tentang siapa yang terlihat bagus, tetapi juga tentang siapa yang berhak menentukan definisinya. Selama definisi itu diserahkan kepada algoritma dan logika pasar, perempuan akan terus mengejar standar yang memang tidak dirancang untuk tercapai. Mungkin sudah waktunya kita berhenti bertanya tentang bagaimana agar terlihat cantik, tetapi juga mulai bertanya, “mengapa aku harus terus terlihat cantik?”
Informasi Penulis
- Nama : Wulan Anggraini
- MK: Komunikasi gender
- Dosen Pengampu : Dr. Merry Fridha Tripalupi, M.Si
Social Header