Pernahkan kita merasa ketika membuka sebuah aplikasi media digital salah satunya adalah Tiktok, tiktok sendiri banyak digunakan untuk kegiatan dan hal yang positif, bahkan untuk peluang berbisnis atau sekadar mencari informasi dan berita yang sedang kekinian jugak bisa mellaui aplikasi digital tersebut. Pada perkembangan teknologi pada zaman sekarang, kita semua bisa dengan mudah untuk mengakses atau mencari sesuatu dari sosial media tanpa harus menggunakan energi terlalu banyak, contohnya dalam kasus perihal kecantikan, semua orang dapat mencari berbagai macam. Selain itu, biasanya orang menggunakan aplikasi tiktok untuk mencari sebuah hiburan semata, atau bahkan tanpa sadar dengan adanya aplikasi tersebut, kita jugak bisa melihat orang lain dari gender yang berbeda yang sedang membagikan unggahannya dalam tiktok, bahka tanpa sadar kitab jugak sering membandingan diri sendiri atau sedang mengadu Nasib secara online terhadap orang tersebut.

Media sosial tiktok sangat berkembang pesat dana menjadi sebuah platfrom di mana Perempuan dapat ssaling berkomunikasi secara tidak langsung dalam dunia online atau biasa di sebut dengan virtual. Selain itu, mereka jugak bisa saling sharing pengalaman satu sama lain dan memperkuat suatu rasa kepercayaan diri mereka satu sama lain, bahkan ketika percakapan sudah terbentuk dan berjalan secara stabil, biasanya dari sana banyak sekali pembahasan yang tak terduga, bahkan misalnya ada sebuah Perempuan dengan perbedaan ras, kulit dll. Namun, di bali itu semua ada sebuah rasa kepahitan dan tidak adil terhadap Perempuan secara tidak langsung, karena standar kecantikan yang di tentukan dalam dunia saat ini. Misalnya ada perempuan dengan visual muka yang sangat cantik dan Perempuan berkulit cerah dengan wajah muluss, dari sana sesame Perempuan juga secara tida langsung menjadi pusat perbandingan dan sorotan public figure di sosial media.

Bukan hanya sekadar memberikan sebua informasi atau menjalin sebuah jaringan dan koneksi saja, dunia digital sudah sangat banyak sekali kegunaannya, hanya saja tergantung bagaimana ara pengguna nya menggunakan sosial media dengan bijak dan cermat. 

Selain itu, dalam platfrom tiktok ini sendiri kitab jgak bisa mencari atau sekadar belajar perihal hal baru dan memulai pengalaman baru, contohnya adalah mencari sebuah tutorial makeup yang menjanjikan dengan perubahan penampilan, hingga sebuah konten promosi produk kecantikan dari brand tertentu yang muncul, dengan tertera hasil sesudah dannsebelum memakai produk kecantikan tersebut, agar konsumen tertarik untuk membelinya atau melihat produk tersebut.

Konten – konten tersebut memang sangat menarik untuk ditonton. Namun, di balik popularistasnya, ada sebuah pertanyaan yang layak untuk dijukan ketika audiens melihat konten tersebut, “siapa sebenernya yang menentukan standar kecantikan Perempuan”?

Media sosial banyak sekali yang membahas perihal kecantikan, seolah memiliki ukuran yang mudah sekali untuk dikenali. Standar kecantikan sangat ditentukan, bahkan Perempuan merasda bahwa dirinya merasa kurang karena danya hal tersebut, biasanya secara umum dikenal adalah memiiki kulit cerah, putih mulus, wajah tanpa noda atau bekas jerawat, kurus dan tidak boleh berisi atau gendut, hidung mancung dan tubuh yang proposional kerap me najdi sebuah Gambaran Perempuan ideal yang ada di Indonesia atau bahakan semua negeri. TikTok telah menjadi tempat di mana perempuan dapat berkomunikasi, berbagi pengalaman, dan meningkatkan kepercayaan diri. Akan tetapi, standar kecantikan yang seringkali terbatas juga berkembang di platform ini. Bukan masalahnya karena wanita merawat kulit atau menggunakan kosmetik; masalahnya adalah ketika penampilan tertentu dianggap lebih penting daripada penampilan lainnya.

Kecantikan adalah nilai yang dibentuk oleh masyarakat dan kualitas fisik. Zaman, budaya, dan pengaruh media dapat mengubah apa yang dianggap cantik. Sayangnya, orang masih menilai wanita berdasarkan warna kulit, bentuk tubuh, dan karakteristik wajahnya. Standar kecantikan tidak terbentuk begitu saja, cara Masyarakat memandang tentang Perempuan dipengaruhi oleh budaya, ada beberapa penelitian yang kini kerap mmeperbincangkan perihal kecantikan Perempuan Indonesia, penelitian ini dikaji oleh Mufidah dkk (2025), yang dimana menganalisis

51 video endorsement produk kecantikan di TikTok. Dalam sampel tersebut, 90,2 persen influencer yang diteliti memiliki kulit kuning langsat. Temuan ini tidak mewakili seluruh konten TikTok, tetapi memperlihatkan bagaimana karakteristik fisik tertentu dapat mendominasi representasi kecantikan dalam promosi sebuah produk.

Dengan melihat dari sudut pandang feminisme sosialis, kita dapat menyadari bahwa kecantikan melibatkan ketimpangan gender, kepentingan ekonomi, dan pilihan individu. Kemudian, untuk perempuan biasanya dinilai berdasarkan bagaimana mereka terlihat dalam budaya yang dianggap patriarkal dan ini sangat sering kita jumpai dimana-pun. 

Industri kecantikan dapat memanfaatkan situasi ini untuk menjual produk yang menjanjikan yang memenuhi standar penampilan popular dengan daya jual dan audiens yang sangat banyak, dengan begitu produk mereka akan terjual dengan sangat banyak. Mereka dapat berbicara berulang kali. Sebuah konten menunjukkan penampilan tertentu sebagai ideal, penonton memuji, dan produk ditawarkan sebagai cara untuk mencapai hasil serupa. Rasa tidak percaya diri dapat berubah menjadi peluang bisnis jika pesan ini terus disebarkan. 

Selain itu, kecantikan sangat di idambakan banyak orang khususnya Perempuan, merekaa ingin terlihat menawan dan pastinya ada kebahagiaan tersendiri di dalam yang kita rasakan. Kemudian, Komunikasi dapat terjadi berulang kali. Sebuah konten menunjukkan penampilan tertentu sebagai ideal, komentar audiens memperkuat penilaian, dan produk diberikan sebagai cara untuk mencapai hasil yang sebanding.

Pada penlitian dan buku yang di tulis dengan berjudul Diskursus Hijab di Indonesia, buku 2019 oleh Merry Fridha Tri Palupi,dalam buku tersebut membantu memahami bagaimana media, budaya, tubuh perempuan, dan kepentingan konsumerisme berinteraksi satu sama lain dengaan skala bersamaan dan pastinya memiliki manfaat atau tujuan yang sejalan. Buku ini membahas debat tentang hijab dan hubungan kuasa dengan pembentukan makna. 

Meskipun tidak membahas standar kecantikan TikTok, diskusinya dapat mengarahkan kita untuk mempertanyakan siapa yang menciptakan dan mempertahankan gambaran perempuan ideal. Selain itu, dengan adanya pemahaman diatas bukan berarti semua pencipta konten atau produk kecantikan sengaja membuat wanita merasa rendah diri. Merawat diri adalah cara untuk mengekspresikan diri. Namun, kampanye yang membuat kondisi wajah, bentuk tubuh, atau warna kulit tertentu terlihat memalukan masih perlu dipertanyakan.

TikTok bukan tempat untuk hiburan saja, tapi platfrom ini jugak bisa dan dijadikan sebuah tempat perlawanan dan meningkatkan etika. Selain itu, platform ini memfasilitasi partisipasi perempuan dalam peran politik alternatif, dan juga menjadi wadah atau tempaat orang untuk memulai kegiatan yang bermanfaat asal tidak merugikan orang lain. Kemudian, ada beberapa penelitian yang dimana membuat suatu kajian yang membahas perihal standar Perempuan dan kecantikan, penelitian tersebut di kaji oleh Studi Wilmanda dan Hariyanti (2025), yang dimana pada penelitian ini menggunakan konten dari akun @cadburylemonade untuk membahas pergeseran standar kecantikan di Indonesia.

Sementara itu, pada penelitian yang di kaji oleh Dewantoro, Achmad, dan Arviani (2025), dalam riset ini membahas dan melakukan penelitian di akun @skinofmeid tentang narasi kecantikan dominan melalui representasi kulit tan. Publik selalu membandingkan seseorang yang mempunyai kulit berjenis tan dan kulit berjenus putih mulus. Kecantikan tidak terbatas pada satu warna kulit atau bentuk wajah karena memiliki banyak representasi. Kreator dapat menampilkan berbagai tekstur kulit, warna kulit, dan pengalaman wanita yang tidak biasa dengan standar kecantikan modern. Pengguna media sosial itu dalam teknologi yang sangat canggih ini sangat penting. Selain oiitu, kita jugak dapat melakukan hal-hal sederhana seperti mendukung konten yang menghargai keberagaman, menghindari komentar fisik yang merendahkan, dan menanyakan janji produk. Keputusan konten.

Perkembangan teknologi yang sangat canggih sekarang ini bisa merubah banyak hal, terutama dalam segi aspek mengubah bcara berkomunikasi dan membangun sebuah citra branding yang sangat bagus dalam media sosial. Kemudian, Perempuan Bukan Sekadar Objek Penilaian, karena standar kecantikan terkait dengan bagaimana perempuan diwakili dan dinilai dalam kehidupan sehari-hari. Pengalaman, kemampuan, pemikiran, dan pencapaian wanita berisiko dikesampingkan ketika penampilan menjadi ukuran utama dalam kehidupan yang ada pada zaman sekarang.

Dalam konteks kecantikan perempuan Indonesia di TikTok, studi interseksional Nikita dan Pribadi (2026) membahas diskriminasi warna kulit. Studi ini berfokus pada bagaimana diskriminasi warna kulit berkorelasi dengan masalah sosial yang lebih luas. Ini menunjukkan bahwa pengalaman perempuan tidak selalu sama. Latar belakang sosial, warna kulit, dan jenis kelamin seseorang dapat memengaruhi bagaimana mereka diperlakukan. 

Selain itu, sekarang TikTok menetapkan standar kecantikan yang tidak terbatas pada preferensi pribadi. Fenomena ini terkait dengan praktik komunikasi, relasi gender, representasi sosial, dan kepentingan ekonomi. Perspektif feminisme sosialis berpendapat bahwa tubuh perempuan harus dianggap lebih dari sekedar komoditas untuk dikonsumsi atau dihargai.

Kecantikan tidak perlu menjadi kewajiban sosial jika merupakan bagian dari ekspresi diri seseorang. Wanita memiliki hak untuk menjaga dirinya sendiri, menerima dirinya sendiri, dan mengambil keputusan tentang penampilan mereka sendiri tanpa mengorbankan kebutuhan orang lain. Akibatnya, pertanyaan yang harus kita ajukan bukan hanya, "Siapa yang paling cantik?" Namun, "Mengapa kita terus menetapkan satu ukuran untuk menilai semua perempuan?". Sebab, cantik bukan tentang memenuhi standar semua orang, melainkan tentang memiliki kebebasan untuk menentukan diri sendiri dan kita semua Perempuan yang ada di dunia sangat pantas mendapatkan kebahagian dan standar kecantikan diri sendiri setiap orang sangat berbeda, semua Perempuan pantas dan layak untuk di hargai.

Informasi Penulis

  • Nama: Revalani Septania
  • MK: UTS Komunikasi dan Gender/A
  • Dosen Pengampu: Dr. Merry Fridha Tripalupi, M.Si