Jepara – Jateng
Membangun usaha tidak cukup hanya dengan menghasilkan produk berkualitas. Di tengah persaingan pasar yang semakin dinamis, pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) juga perlu memiliki identitas dan posisi merek yang kuat agar produknya mampu dikenal serta memiliki nilai lebih di mata konsumen.
Semangat tersebut menjadi fokus dalam Pelatihan UMKM “Belajar Demi Naik Kelas” yang digelar oleh Rumah BUMN BRI Jepara, melalui workshop bertajuk “Brand Positioning: Menemukan Keunikan dan Nilai Jual UMKM.”
Kegiatan berlangsung pada Jumat, 21 Agustus 2026, pukul 09.00–12.00 WIB, bertempat di Ruang Pelatihan Rumah BUMN BRI, Jalan Pemuda Potroyudan II, Kabupaten Jepara.
Dalam workshop tersebut, peserta diajak memahami pentingnya menentukan posisi sebuah brand di tengah persaingan pasar. Tidak hanya mengenai bagaimana sebuah produk terlihat menarik, tetapi juga bagaimana pelaku UMKM mampu menemukan keunikan, karakter, serta nilai jual yang membedakan produknya dari kompetitor.
Materi disampaikan oleh Ida Mulyani, Owner Wood Mood, yang berbagi wawasan dan pengalaman dalam membangun serta mengembangkan brand. Melalui kegiatan ini, peserta memperoleh perspektif bahwa kekuatan sebuah produk tidak hanya terletak pada barang yang dijual, tetapi juga pada cerita, karakter, dan nilai yang melekat pada brand tersebut.
Workshop ini menjadi kesempatan bagi pelaku UMKM untuk mengevaluasi kembali identitas usaha mereka. Dengan memahami siapa target konsumen, apa keunggulan produk, serta bagaimana membangun persepsi yang tepat di benak pelanggan, UMKM diharapkan dapat menyusun strategi pemasaran yang lebih terarah.
Konsep brand positioning juga menjadi semakin penting seiring perubahan perilaku konsumen yang semakin selektif. Produk yang memiliki kualitas baik perlu didukung dengan identitas yang jelas agar lebih mudah dikenali dan memiliki alasan yang kuat bagi konsumen untuk memilihnya.
Melalui program “Belajar Demi Naik Kelas”, Rumah BUMN BRI Jepara terus mendorong peningkatan kapasitas pelaku UMKM melalui pembelajaran dan pengembangan kompetensi. Pelatihan semacam ini diharapkan dapat memberikan bekal praktis yang dapat langsung diterapkan dalam pengelolaan usaha.
Pada akhirnya, membangun brand bukan hanya tentang membuat nama atau logo yang menarik, tetapi tentang menemukan jati diri usaha dan menyampaikan nilai tersebut secara konsisten kepada konsumen.
Dengan semakin kuatnya pemahaman pelaku UMKM mengenai branding dan positioning, diharapkan produk-produk lokal mampu memiliki daya saing yang lebih tinggi, menjangkau pasar yang lebih luas, serta tumbuh secara berkelanjutan. Karena UMKM yang naik kelas bukan hanya yang mampu menjual lebih banyak, tetapi juga yang mampu membuat produknya memiliki identitas, nilai, dan tempat tersendiri di hati konsumennya.
Social Header