Gresik – Sebagai sebuah upaya nyata dalam menjaga mutu hasil pertanian dan melindungi petani dari praktik spekulasi harga oleh oknum tengkulak, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) akan menerapkan teknologi tepat guna yang berfungsi sebagai  pengawasan kualitas pasca panen di Desa Gedangan, Kecamatan Sidayu, Kabupaten Gresik.

Program demonstrasi yang dilaksanakan pada kamis 9 Juli 2026 yang dilakukan di Balai Desa Gedangan, Sidayu, Gresik berfokusnya pada standardisasi kadar air dan pengawasan ketat terhadap kadar air komoditas padi dan jagung dengan menerapkan teknologi grain moisture meter digital. Langkah ini diambil dengan bermitra atau bekerja sama denan Gapoktan (Gabungan Kelompok Tani) Desa Gedangan yang berkontribusi dari tahap perencanaan sampai tahap pelaksanaan.

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini berjalan di bawah bimbingan dan pengawasan langsung oleh Dosen Pembimbing Lapangan Salsabila Ratu Kencana Syaharani, S.Psi., M.Psi., yang memiliki peran penting sebagai pembimbing utama untuk menyusun program.

Petani seringkali berada di posisi yang lemah bertemu dengan tengkulak karena tidak memiliki standar acuan kualitas atau data valid yang jelas. Melalui pembentukan pengawasan mutu yang ketat dengan memanfaatan teknologi tepat guna pengukur kadar air, mahasiswa KKN hadir untuk memberi tahu akan adanya urgensi tersebut. Jika kualitas produk bisa terukur secara akurat akan membuat standarisasi harga yang adil akan mengikuti dengan sendirinya “Ujar Bu Salsa sebagai Dosen Pembimbing Lapangan.

Jika celah kelemahan dalam penentuan kadar air pasca-panen di biarkan saja akan berpontensi besar dimanfaatkan oleh oknum tengkulak yang tidak bertanggung jawab untuk menekan harga jual padi dan jagung milik petani di Desa Gedangan. Jika tidak adanya alat ukur digital yang hadir untuk membentuk standar pengawasan yang ketat, petani akan terpaksa menerima potongan harga yang tinggi dengan alasan komoditas mereka dianggap masih terlalu basah atau belum memenuhi kualifikasi mutu karena tidak ada data valid yg bisa memperkuat posisi petani saat berhadapan dengan oknum tengkulak.

Saya Andrew Sugiri bersama tiga mahasiswa lainnya sebagai tim kelompok yang melaksanakan program sekaligus juga penulis menjelaskan bahwa kehadiran grain moisture meter digital sebagai pengawasan ini ditujukan untuk memotong rantai permainan harga tersebut melalui pengetatan kualitas internal di tingkat petani menggunakan data yang dihasilkan melalui alat pengukur kadar air tersebut.

Tujuan utama kami adalah memperketat pengawasan kualitas dari penyimpanan sampai distribusi pasca-panen. Dengan adanya standar pengawasan kadar air yang ketat ini, petani memiliki bukti data digital yang sah mengenai mutu komoditas mereka. Ketika kadar air terbukti memenuhi standar nasional melalui grain moisture meter, tidak ada lagi celah bagi oknum tengkulak untuk mempermainkan harga secara sepihak.

Dari kegiatan tersebut, mahasiswa KKN membedah poin-poin penting dalam membentuk standar pengawasan kualitas, mulai dari Urgensi, Tujuan, Fungsi, Sampai Demonstrasi grain moisture meter langsung di depan peserta dari kelompok tani menggunakan 1 karung gabah padi dan 1 karung biji jagung yang di berikan oleh Ketua Poktan 1 Jagung. 

Ketua Poktan 1 Jagung Desa Gedangan, Zainal Mila, mengatakan “adanya alat ini bisa dapat membantu petani dengan komoditas padi dan jagung di desa gedangan bisa terbantu”. Selama perencanaan, Ketua Poktan 1 membantu dalam materi seperti keperluan demo dan juga memberi wawasan baru tentang standar kadar air pada biji jagung. 

Melalui penerapan alat grain moisture meter, pengawasan kualitas pasca panen yang lebih ketat diharapkan komoditas padi dan jagung dari Desa Gedangan memiliki standardisasi mutu yang tinggi dan konsisten. 

“Tujuan penerapan alat tersebut bukan untuk menggantikan metode yg sudah ada, tetapi justru untuk menggabungkan metode konvensional dengan teknologi” Ujar Andrew. Agar tercipta standar pengawasan yang bisa tervalidasi akurat.