Gresik – Menentukan kualitas padi hasil panen kini tak lagi sekedar mengandalkan kebiasaan meremas bulir padi dengan tangan. Melalui program kerja pengabdian masyarakat, mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya mengajak para petani Desa Gedangan, Kecamatan Sidayu, Kabupaten Gresik, untuk mulai menggunakan teknologi digital berupa Grain Moisture Meter.
Di bawah bimbingan langsung dari Dosen Pembimbing Lapangan, Salsabila Ratu Kencana Syaharani, S.Psi., M.Psi., Saya Indah Nur Diana bersama tiga rekan mahasiswa lainnya yang tergabung dalam satu tim kelompok sukses mengadakan aksi demonstrasi langsung pada Kamis, 9 Juli 2026. Kegiatan sosialisasi dan praktik alat tersebut dipusatkan di Desa Gedangan, Kecamatan Sidayu, Kabupaten Gresik.
Langkah ini diambil untuk mengedukasi warga sekaligus menekan celah permainan harga gabah yang sering kali merugikan pihak petani saat musim panen tiba. Selama ini, proses penentuan potongan harga (rafraksi) gabah di tingkat bawah dinilai kurang transparan karena masih didominasi oleh metode perkiraan manual dari para tengkulak.
Melihat kondisi tersebut, mahasiswa pengabdian UNTAG Surabaya berinisiatif menggandeng Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) setempat untuk melakukan sosialisasi dan simulasi penggunaaan alat secara langsung. Dengan alat (Grain Moisture Meter) ini, tingkat kelembapan atau kadar air pada bulir padi dapat diketahui secara instan dan akurat lewat indikator angka digital.
"Kami ingin membantu memosisikan petani Sidayu pada posisi tawar yang lebih kuat. Jika kadar airnya sudah terukur pasti dengan alat ini, standar harga jual ke pembeli atau tengkulak juga menjadi lebih objektif dan adil bagi kedua belah pihak," ujar Indah Nur Diana
Kehadiran inovasi sederhana ini disambut hangat oleh pihak kelompok tani. Ketua Gapoktan 1, Zainal Mila, mengakui bahwa edukasi penggunaan alat ukur dari mahasiswa ini memberikan pemahaman baru bagi para anggotanya dalam mengontrol kualitas hasil bumi sebelum dipasarkan.
"Dengan alat (Grain Moisture Meter) ini, kelompok petani jadi punya bukti angka yang jelas, jadi harga gabah kami tidak bisa dimainkan lagi dengan alasan masih basah atau dikira-kira saja," ungkap Zainal Mila.
Melalui pendampingan yang dibimbing oleh DPL dan tim kelompok pengabdian ini, diharapkan pengelolaan pertanian pascapanen di Gedangan Sidayu Gresik dapat semakin modern, mandiri, dan bebas dari praktik spekulasi harga yang merugikan kesejahteraan petani lokal.

Social Header