5 Juni 2026 - Gressmall Gresik menjadi saksi anniversary Metanaru yang kedua melalui sebuah ruang perjumpaan subkultur bertajuk Metacore. Acara ini bukan sekadar panggung musik biasa, melainkan sebuah ekosistem budaya pop yang menghadirkan berbagai grup idol lokal dan band di Indonesia seperti Kitsune, Nonamisty, Revive, Lunarise, Akenohoshi, hingga Dreamsky. 

Di balik sorak-sorai penonton dan kemeriahan panggung, event ini memiliki sudut pandang yang menarik bagi orang yang menyukai budaya Jepang.

Panggung Metacore diisi oleh penampilan yang energik, di mana batas antara penampil dan penonton sering kali melebur. Hal ini terlihat jelas ketika komunitas wotagei turut serta sebagai performers dengan lightstick mereka yang ritmis dan penuh tenaga. Meminjam kacamata Stuart Hall mengenai konsep Representasi dalam Media, wotagei bukanlah sekadar gerakan asal namun memiliki ketentuan dan memiliki arti tersendiri.

Praktik ini adalah sebuah signifying practice (praktik pemaknaan) di mana para penggemar merepresentasikan identitas, dedikasi, dan solidaritas mereka melalui bahasa tubuh. Mereka secara aktif melakukan decoding terhadap musik idol yang bertempo cepat menjadi sebuah koreografi performatif, mengubah posisi mereka dari konsumen pasif menjadi bagian integral dari pertunjukan itu sendiri.

Cheki dan Transaksi Hiperrealitas

Daya tarik utama dari ekosistem idol selain preform adalah sesi Direct Selling, di mana setiap grup idol membuka stan untuk menjual merchandise dan tiket Cheki. Cheki merupakan kegiatan berfoto bersama idol menggunakan kamera polaroid yang langsung dicetak. Di sinilah teori Simulakra dan Hiperrealitas dari Jean Baudrillard beroperasi dengan sangat jelas.


Selembar foto cheki adalah sebuah komodifikasi keintiman. Ia menciptakan hiperrealitas di mana kedekatan parasosial antara sang idol dan penggemar terasa lebih nyata dan intim daripada realitas sesungguhnya. 

Senyum, pose berdua, dan obrolan singkat yang terekam di selembar kertas polaroid tersebut menggantikan (atau menstimulasi) interaksi sosial yang otentik. Penggemar mengonsumsi "tanda" kedekatan ini, sehingga batasan antara interaksi komersial yang terstruktur dan hubungan personal yang murni menjadi lebur dan tak lagi relevan.

Tangis Perpisahan: Hegemoni dan Komodifikasi Budaya Massa

Puncak emosional dari perhelatan Metacore terjadi ketika panggung tersebut menjadi last stage atau penampilan terakhir bagi Lisa, salah satu member dari grup Akenohoshi. Momen perpisahan (kelulusan/graduation) ini memicu kesedihan yang mendalam, terpotret dari tangis dan pelukan para anggota di atas panggung yang disaksikan oleh para penggemarnya.


Fenomena emosional kolektif ini dapat dijelaskan melalui konsep Hegemoni dan Kuasa Media dari Antonio Gramsci , serta dipertegas oleh pandangan kritisisme Frankfurt School mengenai budaya massa. Industri idol beroperasi dengan membangun hegemoni melalui persetujuan emosional (consent). 

Para penggemar secara sukarela menenggelamkan diri dalam narasi perjuangan, kebersamaan, dan perpisahan sang idol. Kesedihan yang dirasakan penggemar sangatlah nyata dan valid, namun di saat yang sama, ia adalah bagian dari desain budaya massa yang mengapitalisasi emosi. Momen perpisahan ini menstrukturisasi loyalitas, di mana tangis dan kehilangan justru semakin memperkuat ikatan hegemonik antara penggemar dan ekosistem idol tersebut.

Event Metacore membuktikan bahwa budaya pop dan skena idol lokal bukan sekadar hiburan. Melalui ayunan lightstick, senyum di lembaran polaroid cheki, hingga air mata perpisahan di atas panggung, kita melihat sebuah teater budaya modern. Di sana, makna direpresentasikan, realitas baru disimulasikan, dan emosi manusia diarahkan oleh kuasa budaya massa yang bekerja secara halus di tengah gemerlapnya panggung hiburan. 

Oleh: Fathan Zamani - 1152300067