Bayangkan seorang penyanyi yang wajahnya sempurna tanpa jerawat, suaranya tak pernah fals, dan jadwalnya tak pernah bentrok karena ia tidak pernah lelah. Ia tidak makan, tidak tidur, dan tidak pernah viral karena skandal, kecuali skandal yang memang sengaja diprogram untuk dirinya. 

Dialah AI idol, sosok idola berbasis kecerdasan buatan yang belakangan menjamur di industri hiburan Korea Selatan, Jepang, hingga Indonesia. Dari Naevis milik SM Entertainment hingga virtual idol group MAVE, fenomena ini bukan sekadar gimmick teknologi. Ia adalah cermin dari kondisi masyarakat kita hari ini, masyarakat yang perlahan kehilangan batas antara yang asli dan yang rekaan.

Ketika Tiruan Lebih Nyata dari Aslinya

Filsuf Prancis Jean Baudrillard pernah menulis bahwa masyarakat postmodern hidup dalam apa yang ia sebut hiperrealitas, kondisi di mana representasi tidak lagi sekadar meniru realitas, tetapi menggantikannya sepenuhnya. AI idol adalah contoh paling telanjang dari gagasan ini. Ia tidak meniru idola manusia, ia menjadi idola itu sendiri, lengkap dengan kepribadian, cerita hidup, bahkan drama asmara fiktif yang didesain oleh tim kreatif.

Yang menarik, penggemar tidak selalu peduli bahwa idola mereka tidak benar-benar ada. Justru sebaliknya, ketiadaan tubuh fisik membuat AI idol menjadi kanvas kosong yang bisa diproyeksikan penggemar sesuka hati. Tidak ada risiko sang idola berkata kasar di wawancara, tidak ada risiko ia terlibat kontroversi pribadi. 

Inilah simulakra tingkat lanjut, sebuah tanda yang berdiri sendiri tanpa rujukan pada realitas apa pun, namun justru dianggap lebih aman dan lebih sempurna daripada realitas manusia.

Siapa yang Berhak Didengar?

Kerangka pemikiran Stuart Hall menjadi relevan untuk membaca fenomena ini. Hall mengingatkan bahwa media tidak pernah netral dalam merepresentasikan sesuatu. Representasi selalu melibatkan proses seleksi, penonjolan, dan penghilangan makna tertentu. Pertanyaannya, representasi macam apa yang dibawa AI idol?

Sebagian besar AI idol dirancang dengan standar kecantikan yang sangat homogen, kulit putih mulus, mata besar, tubuh langsing, wajah simetris sempurna. Standar ini bukan kebetulan, melainkan hasil algoritma yang dilatih dari data preferensi pasar yang sudah bias sejak awal. Dengan kata lain, AI idol tidak menciptakan standar kecantikan baru. Ia hanya mengulang dan mengeraskan standar lama yang sudah lama dikritik karena eksklusif dan tidak representatif terhadap keberagaman tubuh manusia sungguhan.

Hegemoni: Siapa yang Diuntungkan dari Idola yang Sempurna?

Analisis ini akan pincang tanpa membaca kepentingan ekonomi politik di baliknya. Di sinilah konsep hegemoni Antonio Gramsci berperan. Bagi Gramsci, dominasi kelompok berkuasa tidak selalu dipaksakan lewat kekerasan, melainkan dinormalisasi lewat budaya sehari-hari hingga masyarakat menerimanya sebagai hal yang wajar.

Industri hiburan mendapat keuntungan besar dari AI idol. Tidak ada gaji artis, tidak ada risiko kontrak putus di tengah jalan, tidak ada masa pensiun. Sang idola bisa bekerja 24 jam tanpa lelah, tampil di berbagai negara secara bersamaan, dan tidak pernah menua. 

Dari sudut pandang kapital, ini adalah tenaga kerja paling efisien yang pernah ada. Namun di balik efisiensi ini, publik justru diarahkan untuk menganggap wajar bahwa idola sempurna adalah standar yang pantas dikejar, sebuah standar yang ironisnya mustahil dicapai manusia biasa. 

Hegemoni bekerja persis di titik ini, bukan lewat paksaan melainkan lewat kekaguman yang diberikan secara sukarela.

Fenomena AI idol bukan sesuatu yang perlu ditolak mentah-mentah, sebab teknologi ini juga membuka ruang kreativitas baru dalam industri hiburan. Namun sebagai mahasiswa Ilmu Komunikasi dan sebagai warganet yang setiap hari mengonsumsi konten semacam ini, kita perlu memelihara kesadaran kritis. 

Kita perlu bertanya representasi siapa yang sedang ditampilkan, standar siapa yang sedang dinormalisasi, dan keuntungan siapa yang sedang diperjuangkan di balik layar kaca yang berkilau itu.

Oleh: Kevin Tito Fitriansyach