Di zaman yang semakin berkembang, cara berkomunikasi dan mendapatkan informasi mengalami perubahan yang signifikan. Generasi z, generasi yang lahir tahun 1997 hingga 2012, mereka tumbuh bersama dengan berkembangnya sistem digital seperti konten visual. Fenomena yang paling menonjol dalam kehidupan digital Gen-Z yaitu konten singkat , seperti yang ada pada platform popular TikTok, Instagram Reels, dan Youtube shorts.
Konten singkat dengan durasi pendek umumnya 15 hingga 60 detik, yang dibuat untuk menyampaikan pesan secara singkat, cepat namun menarik. Format tersebut sangat sesuai dengan karakteristik Gen-Z. Banyak penelitian menunjukkan bahwa rata-rata perhatian Gen-Z hanya bertahan sekitar 8 detik sebelum beralih ke konten lain, sehingga format pendek tersebut sangat cocok dalam pemasaran pariwisata di era modern. Platform seperti TikTok menjadi tempat bagi para kreator untuk memperkenalkan destinasi wisata melalui video-video estetik, informatif, dan menghibur yang mampu menjangkau jutaan penonton hanya dalam waktu singkat.
Dalam konteks pariwisata, konten singkat memiliki peran sebagai jendela pertama yang membuka rasa ingin tahu Gen-Z terhadap suatu destinasi. Sebuah video 30 detik yang menampilkan keindahan pantai di Raja Ampat, kemegahan Candi Borobudur di pagi hari, atau keseruan kuliner jalanan di Yogyakarta mampu membangkitkan keinginan seseorang untuk mengunjungi tempat tersebut jauh lebih efektif dibandingkan artikel panjang atau brosur wisata konvensional. Hal ini karena konten visual berdurasi pendek mengaktifkan respons emosional yang lebih kuat dan lebih cepat pada penonton. Ketika seseorang melihat video destinasi wisata yang dikemas dengan musik yang tepat, pencahayaan yang indah, dan narasi yang autentik, otak mereka langsung membangun koneksi emosional dengan tempat tersebut.
Bukan hanya sekedar tempat promosi, konten tersebut juga mengubah cara Gen-Z dalam perencanaan perjalanan mereka. Dulu generasi milenial cenderung mengandalkan agen perjalanan, namun Gen-Z lebih mempercayai dari rekomendasi dari sesama pengguna media sosial. Melihat video testimoni perjalanan yang di upload oleh konten kreator, mereka lebih merasa lebih relevan dibandingkan dengan iklan resmi. Hal ini memunculkan apa yang disebut sebagai “wisata berbasis algoritma”, di mana destinasi yang sering muncul di beranda media sosial seseorang secara tidak langsung menjadi destinasi yang paling diinginkan untuk dikunjungi.
Bukti nyata dari sebuah tren ini dapat terlihat dari banyaknya kunjungan wisatawan ke destinasi yang viral di media sosial. Seperti contoh pantai pantai di Nusa Penida, Bali. Mereka mengalami peningkatan jumlah pengunjung secara drastis setelah beberapa video singkat yang tersebar di TikTok maupun Instagram itu menampilkan keindahannya. Beberapa hal serupa terjadi pada berbagai destinasi wisata di seluruh Indonesia dan dunia. Konten singkat ini tidak hanya mendorong kunjungan wisatawan, namun juga membantu destinasi-destinasi yang sebelumnya kurang dikenal untuk mendapatkan perhatian internasional. Ini merupakan peluang besar yang harus dimanfaatkan oleh pelaku industri pariwisata, pemerintah daerah, dan para kreator konten untuk bersinergi dalam mempromosikan kekayaan wisata Indonesia.
Dibalik peluang tersebut, juga ada tantangan yang perlu diwaspadai. Konten yang beredar tidak selalu menampilkan gambaran yang akurat dan bertanggung jawab tentang destinasi wisata tersebut. Terlihat beberapa kasus dimana terlihat bahwa viralitas tersebut membuat rusaknya tempat disana. Selain itu, konten yang tidak menarik atau terlalu dibuat-buat justru dapat menurunkan kepercayaan Gen-Z yang sangat menghargai keaslian. Oleh karena itu, komunikasi pariwisata melalui konten singkat harus dilakukan secara strategis, etis, dan berkelanjutan, dengan tetap memperhatikan kepekaan terhadap isu-isu lingkungan dan budaya.
Konten singkat telah membuktikan dirinya sebagai kekuatan besar dalam membentuk ketertarikan Gen-Z terhadap pariwisata. Dengan kemampuannya menyampaikan pesan secara cepat, emosional, dan autentik, format ini menjadi jembatan yang menghubungkan generasi muda dengan pengalaman wisata yang mungkin tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya. Di era komunikasi pariwisata yang semakin dinamis, para pelaku industri yang mampu memahami dan memanfaatkan kekuatan konten singkat dengan bijak akan memiliki keunggulan kompetitif yang signifikan. Ke depan, sinergi antara kreativitas konten, teknologi digital, dan tanggung jawab terhadap keberlanjutan pariwisata akan menjadi kunci utama dalam memenangkan hati dan perhatian Gen-Z sebagai wisatawan masa depan.
Informasi Penulis
- Alika Putri Madya Aru (1152300180)
- Drs.Widiyatmo Ekoputro, M.A

Social Header