Surabaya - Di tengah perkembangan era digital yang serba cepat, pemuda sering kali lebih akrab dengan ruang virtual dibandingkan ruang sosial di lingkungan tempat tinggalnya. Media sosial menjadi tempat berekspresi, berdiskusi, bahkan membangun citra diri. Namun, di sisi lain, ruang gerak nyata di kampung, kelurahan, atau lingkungan sekitar justru kerap kehilangan partisipasi aktif dari generasi mudanya.

Fenomena tersebut dapat dilihat dari melemahnya peran organisasi kepemudaan lokal, salah satunya Karang Taruna. Di banyak wilayah, Karang Taruna yang semestinya menjadi wadah kreativitas, solidaritas, dan kepedulian sosial pemuda justru mengalami kondisi yang kurang aktif. Beberapa hanya bergerak saat momentum tertentu, seperti peringatan hari besar atau kegiatan seremonial tahunan.

Padahal, kampung dan kelurahan merupakan ruang sosial paling dekat dengan kehidupan masyarakat. Dari lingkungan inilah nilai gotong royong, musyawarah, kepedulian, dan solidaritas sosial tumbuh. Ketika Karang Taruna tidak lagi berjalan secara optimal, berbagai persoalan lokal dapat muncul, mulai dari renggangnya hubungan antargenerasi, minimnya kegiatan positif bagi pemuda, hingga melemahnya ruang dialog di tengah masyarakat.

Pertanyaannya, mengapa organisasi yang memiliki peran penting ini sering kali kehilangan daya geraknya? Jika dilihat lebih dalam, tantangan Karang Taruna umumnya tidak hanya berkaitan dengan kurangnya semangat pemuda. Masalah yang lebih mendasar sering kali terletak pada lemahnya tata kelola organisasi, kurangnya transparansi keuangan, serta ketergantungan terhadap anggaran yang terbatas.

Banyak pengurus muda sebenarnya memiliki keinginan kuat untuk membuat program kerja yang bermanfaat. Namun, semangat tersebut perlahan menurun ketika dihadapkan pada persoalan manajemen, minimnya pendanaan, atau kurangnya kemampuan menyusun rencana kegiatan secara terarah. Akibatnya, gagasan baik sering berhenti di tahap wacana dan sulit diwujudkan menjadi program yang berkelanjutan.

Debra Jane Haq saat menyerahkan poster program “Gerakan Warga Harmonis” kepada perwakilan pengurus Karang Taruna di Kelurahan Pegirian, Surabaya, sebagai bentuk komitmen penguatan kapasitas pemuda.

Melihat kondisi tersebut, program pemberdayaan masyarakat melalui Kuliah Kerja Nyata (KKN) Untag Surabaya di wilayah RW 3, 4, 5, dan 6 Kelurahan Pegirian berupaya menghadirkan pendekatan yang lebih aplikatif. Program ini tidak hanya berfokus pada bantuan fisik yang bersifat sementara, tetapi juga mendorong penguatan kapasitas pemuda melalui keterampilan organisasi yang dapat digunakan dalam jangka panjang.

Penguatan Karang Taruna perlu dilakukan melalui tiga pilar penting. Pertama, menumbuhkan kembali jiwa patriotisme modern. Patriotisme hari ini tidak hanya dimaknai sebagai perjuangan dalam bentuk besar, tetapi juga sebagai kepedulian terhadap lingkungan sekitar. Pemuda dapat menunjukkan rasa cinta terhadap bangsa melalui peran sederhana, seperti menjaga kerukunan warga, menghidupkan budaya musyawarah, serta menjadi pelopor kegiatan positif di tengah masyarakat.

Kedua, membangun transparansi manajemen keuangan. Organisasi yang sehat membutuhkan tata kelola yang rapi dan dapat dipertanggungjawabkan. Ketika pengurus Karang Taruna mampu mengelola keuangan secara terbuka, kepercayaan warga akan semakin kuat. Kepercayaan ini menjadi modal sosial penting agar setiap program yang dijalankan mendapat dukungan dari masyarakat.

Ketiga, mendorong kemandirian finansial organisasi. Selama ini, keterbatasan dana sering menjadi alasan mandeknya program kerja. Padahal, kendala tersebut dapat diatasi apabila pemuda dilatih untuk berpikir kreatif, strategis, dan profesional. Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah membekali mereka dengan kemampuan menyusun proposal kegiatan yang baik, sehingga dapat ditawarkan kepada sponsor, mitra usaha, atau pihak lain yang memiliki kepedulian terhadap pengembangan masyarakat.

Melalui pelatihan dan pendampingan tersebut, pemuda Karang Taruna di Kelurahan Pegirian diharapkan mampu melihat organisasi bukan hanya sebagai wadah kegiatan sesaat, tetapi sebagai ruang belajar kepemimpinan, kerja sama, dan tanggung jawab sosial. Karang Taruna dapat menjadi tempat bagi pemuda untuk melatih kemampuan komunikasi, menyusun program, mengelola anggaran, serta membangun relasi dengan berbagai pihak.

Ikhtiar pemberdayaan yang dilakukan dalam program KKN ini juga membuka ruang kesadaran baru bagi para pemuda setempat. Mereka yang sebelumnya ragu untuk aktif mulai melihat kembali pentingnya peran Karang Taruna dalam kehidupan masyarakat. Keaktifan pemuda bukan hanya bermanfaat bagi diri mereka sendiri, tetapi juga menjadi energi baru bagi lingkungan kampung agar lebih hidup, aman, dan harmonis.

Namun, program KKN tentu memiliki batas waktu. Mahasiswa hanya berperan sebagai pihak yang membantu menanamkan kesadaran, memberi dorongan awal, dan membagikan keterampilan dasar. Setelah itu, keberlanjutan organisasi sepenuhnya berada di tangan para pemuda dan masyarakat setempat.

Menghidupkan kembali Karang Taruna bukan sekadar membuat program kerja baru. Lebih dari itu, langkah ini merupakan investasi sosial jangka panjang untuk merawat kehidupan kampung yang sehat dan harmonis. Ketika pemuda mampu berdaya secara organisasi, mandiri secara finansial, dan peka terhadap persoalan sosial, maka ketahanan komunitas lokal akan tumbuh semakin kuat.

Karang Taruna yang aktif adalah tanda bahwa pemuda masih memiliki ruang untuk bergerak, berkontribusi, dan menjaga masa depan lingkungannya sendiri. Dari kampung yang harmonis, akan lahir masyarakat yang lebih peduli, solid, dan siap menghadapi perubahan zaman.

Informasi Penulis

  • Nama: Debra Jane Haq
  • Nim: 1512300342
  • Prodi: S1 Psikologi
  • Dosen Pembimbing Lapangan (DPL): Novan Andrianto, S.I.Kom., M.I.Kom.
  • Kelompok: KKN NR 03 Sub Kelompok 03
  • Universitas: 17 Agustus 1945 Surabaya)