SURABAYA – Pemuda memiliki peran penting sebagai penggerak pembangunan masyarakat di tingkat lokal. Melalui kreativitas, kepedulian sosial, dan semangat gotong royong, pemuda dapat menjadi kekuatan utama dalam menciptakan lingkungan yang aktif, harmonis, dan berdaya.
Namun, dalam praktiknya, organisasi kepemudaan di tingkat kampung tidak selalu berjalan optimal. Tantangan berupa menurunnya minat berorganisasi, keterbatasan anggaran, hingga lemahnya manajemen internal sering kali membuat kegiatan kepemudaan mengalami kondisi kurang aktif. Fenomena ini juga menjadi salah satu alasan pentingnya penguatan kembali peran Karang Taruna sebagai wadah pemuda di lingkungan masyarakat.
Menanggapi kondisi tersebut, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya melalui program Kuliah Kerja Nyata Non Reguler (KKN NR) 03 Sub Kelompok 03 menghadirkan program kerja bertajuk “Gerakan Warga Harmonis: Jaring Aspirasi Edukasi Kerukunan, Musyawarah, dan Lingkungan Sosial Positif.” Program ini berfokus pada pemberdayaan pemuda Karang Taruna di wilayah RW 3, RW 4, RW 5, dan RW 6 Kelurahan Pegirian, Kecamatan Semampir, Kota Surabaya.
Kegiatan tersebut dirancang bukan hanya sebagai bentuk pelaksanaan program akademik, tetapi juga sebagai langkah nyata untuk membangun kapasitas kepemimpinan, kesadaran berorganisasi, dan kemandirian finansial bagi pemuda setempat. Melalui pendekatan edukatif dan aplikatif, para pemuda diajak memahami kembali pentingnya Karang Taruna sebagai ruang belajar, ruang kolaborasi, sekaligus motor penggerak kegiatan sosial di lingkungan kampung.
Tiga Pilar Keterampilan Taktis untuk Pemuda
Pelatihan yang diberikan kepada pengurus dan anggota Karang Taruna lintas RW di Kelurahan Pegirian mengangkat tiga pilar keterampilan taktis. Tiga materi ini disusun untuk menjawab tantangan riil yang kerap dihadapi organisasi kepemudaan di tingkat lokal.
Pertama, penumbuhan jiwa patriotisme dan kesadaran berorganisasi. Patriotisme dalam konteks pemuda hari ini tidak hanya dimaknai sebagai semangat kebangsaan secara simbolis, tetapi juga sebagai kepedulian terhadap lingkungan sosial terdekat. Pemuda didorong untuk aktif menjaga kerukunan warga, menghidupkan budaya musyawarah, serta menjadi pelopor kegiatan positif di masyarakat.
Kedua, peningkatan keterampilan manajemen keuangan. Dalam sebuah organisasi, tata kelola keuangan yang rapi, transparan, dan akuntabel menjadi fondasi penting untuk membangun kepercayaan. Melalui materi ini, para peserta diberikan pemahaman mengenai pentingnya pencatatan keuangan, pertanggungjawaban dana, serta pengelolaan anggaran kegiatan secara lebih terstruktur.
Ketiga, penguatan kemandirian finansial melalui penyusunan proposal kegiatan. Keterbatasan dana sering menjadi hambatan utama dalam menjalankan program kerja Karang Taruna. Oleh karena itu, pemuda dibekali kemampuan menyusun, mengemas, dan mengajukan proposal pendanaan secara profesional kepada sponsor, mitra usaha, maupun pihak pendukung lainnya. Dengan keterampilan ini, Karang Taruna diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pada anggaran internal dan lebih berani merancang kegiatan yang berdampak.
Mendapat Sambutan Positif
Program pemberdayaan ini mendapatkan sambutan positif dari berbagai pihak. Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), Novan Andrianto, S.I.Kom., M.I.Kom., memberikan apresiasi terhadap pelaksanaan program yang dinilai relevan dengan kebutuhan masyarakat, khususnya dalam penguatan kapasitas pemuda di tingkat kampung.
Menurutnya, kolaborasi, kemampuan administrasi, dan kemandirian dalam mencari pendanaan merupakan aspek penting agar Karang Taruna mampu berdiri sebagai agen perubahan lokal. Dengan bekal keterampilan praktis, organisasi kepemudaan diharapkan tidak hanya aktif pada momen tertentu, tetapi juga mampu menjalankan program secara lebih berkelanjutan.
Respons positif juga datang dari peserta pelatihan. Salah satu perwakilan anggota Karang Taruna menyampaikan bahwa materi penyusunan proposal kegiatan memberikan sudut pandang baru bagi mereka. Selama ini, keterbatasan dana kerap menjadi alasan terhentinya sejumlah program kerja. Namun, melalui pelatihan ini, para pemuda mulai memahami bahwa peluang pendanaan dapat dibuka apabila kegiatan dikemas secara jelas, rapi, dan meyakinkan.
Program ini juga membangkitkan kembali rasa percaya diri pemuda untuk mengaktifkan kegiatan Karang Taruna di lingkungan masing-masing. Mereka tidak hanya mendapatkan materi, tetapi juga dorongan untuk melihat organisasi sebagai wadah pengembangan diri, kepemimpinan, dan kontribusi sosial.
Melalui pelaksanaan KKN ini, diharapkan benih kesadaran, keterampilan, dan kemandirian bagi pemuda di RW 3, RW 4, RW 5, dan RW 6 Kelurahan Pegirian dapat tertanam dengan kuat. Program ini menjadi langkah awal untuk mendorong Karang Taruna agar lebih aktif, tertata, dan mampu menjawab kebutuhan sosial masyarakat.
Pada akhirnya, keberlanjutan organisasi berada di tangan para pemuda setempat. Mahasiswa KKN berperan sebagai pendamping yang membantu membuka ruang kesadaran dan memberikan bekal awal. Selanjutnya, tongkat estafet berada pada Karang Taruna untuk terus bergerak, merawat eksistensi organisasi, dan menghadirkan kegiatan yang bermanfaat bagi warga.
Dengan Karang Taruna yang aktif dan mandiri, lingkungan kampung dapat tumbuh menjadi ruang sosial yang lebih harmonis, produktif, dan berdampak positif bagi masyarakat.
Ditulis oleh
- Nama: Debra Jane Haq
- Nim: 1512300342
- Prodi: S1 Psikologi
- Dosen Pembimbing Lapangan (DPL): Novan Andrianto, S.I.Kom., M.I.Kom.
- Kelompok: KKN NR 03 Sub Kelompok 03
- Universitas: 17 Agustus 1945 Surabaya)

Social Header