Wisatawan kini menentukan tujuan liburan dari layar ponsel sebelum kaki melangkah. Sebuah video pendek berdurasi tiga puluh detik tentang Kota Lama Surabaya bisa mengundang ribuan pengunjung dalam satu akhir pekan. Inilah wajah baru komunikasi pariwisata di era digital, ketika cara sebuah destinasi bercerita menentukan ramai atau sepinya kunjungan.

Komunikasi pariwisata di era digital adalah proses penyampaian informasi destinasi melalui kanal daring seperti media sosial, mesin pencari, dan platform ulasan. Bentuknya bukan lagi brosur cetak atau iklan televisi semata. Konten visual di Instagram, TikTok, dan YouTube menjadi etalase utama yang menjangkau calon wisatawan tanpa batas wilayah dan waktu.

Pergeseran ini terjadi karena perilaku wisatawan berubah. Mereka mencari rekomendasi dari sesama pengguna, bukan dari iklan resmi. Generasi muda mempercayai unggahan teman dan kreator konten lebih dari promosi pemerintah. Data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia mencatat pengguna internet di Indonesia menembus 221 juta orang pada 2024. Angka itu menjelaskan mengapa promosi wisata kini harus hadir di ruang digital.

Surabaya dan Kekuatan Konten Buatan Pengunjung

Surabaya menjadi contoh nyata. Kawasan Kota Lama yang diresmikan Pemerintah Kota Surabaya pada Juli 2024 cepat populer berkat unggahan pengunjung di media sosial. Foto gedung bergaya Eropa dan kuliner di sekitar Jembatan Merah menyebar luas tanpa biaya iklan besar. Wisatawan membagikan pengalaman mereka, lalu pengikut mereka tergerak datang untuk merasakan hal serupa.

Muhammad Iqbal Elang Saputra menilai perubahan ini menggeser peran promosi ke tangan pengunjung. "Sekarang satu unggahan warganet bisa lebih kuat daripada iklan resmi. Wisatawan lebih percaya cerita dari sesama pengunjung," ujarnya. Ia menambahkan bahwa Generasi Z di Surabaya punya peran besar karena terbiasa membuat konten setiap hari.

Dosen Ilmu Komunikasi Drs. Widiyatmo Ekoputro, M.A. menegaskan komunikasi pariwisata kini bersifat dua arah. "Pemerintah menyediakan ruang yang menarik, lalu masyarakat yang menyebarkan ceritanya. Keduanya harus berjalan bersama," katanya. Menurut dia, destinasi yang gagal hadir secara menarik di ruang digital akan tertinggal, sebaik apa pun keindahan aslinya.

Kekuatan konten buatan pengunjung terletak pada kepercayaan. Calon wisatawan menganggap unggahan teman lebih jujur daripada iklan berbayar. Satu ulasan positif di Google Maps tentang Taman Bungkul atau Hutan Bambu Keputih bisa menarik kunjungan baru setiap hari. Inilah alasan pengelola destinasi mulai mendorong pengunjung mengabadikan dan membagikan momen mereka.

Meski begitu, era digital membawa tantangan. Informasi keliru menyebar secepat informasi benar. Foto yang menyesatkan atau ulasan palsu dapat merusak citra sebuah destinasi dalam waktu singkat. Pengelola wisata perlu aktif mengelola kanal resmi, menjawab pertanyaan pengunjung, dan meluruskan informasi yang salah agar reputasi tetap terjaga.

Bagi Generasi Z di Surabaya, keterampilan ini menjadi modal penting. Mereka tidak hanya menikmati wisata, tetapi juga ikut menentukan arah promosinya melalui konten yang mereka buat setiap hari. Masa depan pariwisata kota berada di tangan mereka yang mampu mengubah pengalaman menjadi cerita yang layak dibagikan.