Indonesia sedang menghadapi tantangan ekonomi yang berat dalam beberapa tahun belakangan. Dampak pandemi COVID-19, dinamika ekonomi internasional, inflasi, hingga konflik geopolitik berdampak langsung pada daya beli masyarakat. Kholifatus Sa'diyah, mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya, menilai krisis ekonomi ini bukan sekadar masalah angka pertumbuhan atau nilai tukar mata uang. Lebih dari itu, ada aspek komunikasi yang menentukan bagaimana masyarakat memahami kondisi yang sedang dihadapi.

“Komunikasi yang transparan, jujur, dan mudah dimengerti adalah salah satu kunci untuk mempertahankan kepercayaan masyarakat serta memperkuat kolaborasi dalam menghadapi krisis ekonomi,” ujar Kholifatus.

Kholifatus menjelaskan, pemerintah dan pelaku bisnis sering fokus pada kebijakan ekonomi tanpa memperhatikan bagaimana informasi tersebut disampaikan kepada publik. Ketika pemerintah menerbitkan kebijakan seperti bantuan sosial atau pengendalian inflasi, informasi yang kurang tepat justru dapat memicu spekulasi, ketakutan, dan penyebaran berita palsu. Masyarakat yang panik dapat mengambil keputusan yang tidak rasional.

“Komunikasi yang kurang tepat dapat mengakibatkan masyarakat membuat keputusan yang tidak rasional, seperti melakukan pembelian berlebihan atau menyebarkan informasi yang belum tentu benar,” katanya.

Sebaliknya, penyampaian informasi yang jelas dan terbuka dapat memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah sehingga kebijakan yang diterapkan lebih diterima dan dilaksanakan dengan baik. Dalam situasi krisis, kepercayaan masyarakat menjadi modal yang sangat berharga.

Literasi Digital dan Peran Media Massa

Di era digital, masyarakat mudah mendapatkan informasi dengan cepat. Namun, kemudahan ini menghadirkan tantangan berupa hoaks dan disinformasi, terutama terkait isu ekonomi. Kholifatus menekankan bahwa media massa memiliki peranan penting sebagai penjaga informasi untuk publik.

Ia menilai media harus menjalankan prinsip jurnalisme yang menekankan ketepatan, keseimbangan, dan kevalidan informasi. Sebaliknya, berita sensasional tanpa dukungan fakta dapat memperburuk kondisi ekonomi dengan menimbulkan kebingungan di antara publik.

“Media yang menyajikan informasi dengan objektif dapat membantu masyarakat memahami kondisi ekonomi yang sebenarnya dan mengurangi kemungkinan terjadinya kepanikan,” papar Kholifatus.

Kholifatus juga menyoroti pentingnya kemampuan literasi digital bagi masyarakat. Sebelum mempercayai atau menyebarkan informasi, masyarakat perlu memeriksa sumber berita dan membandingkannya dengan media terpercaya. Kemampuan ini menjadi keterampilan wajib di masa sekarang.

“Komunikasi yang bertanggung jawab dimulai dari sikap kritis masyarakat dalam menilai informasi yang diterima. Masyarakat perlu aktif membedakan informasi yang valid dengan informasi yang menyesatkan,” tegasnya.

Komunikasi dalam Sektor Bisnis

Kholifatus menambahkan, komunikasi efektif juga sangat diperlukan dalam sektor bisnis. Pelaku usaha wajib mampu menjalin komunikasi yang baik dengan pelanggan, mitra kerja, dan karyawan ketika menghadapi situasi ekonomi yang tidak menentu. Keterbukaan tentang kondisi perusahaan, strategi bisnis, dan perubahan kebijakan akan membangun kepercayaan serta memperkuat relasi kerja sama.

Melalui komunikasi yang baik, semua pihak dapat bersama-sama mencari solusi tanpa menciptakan salah paham yang dapat memperburuk situasi bisnis. Kepercayaan internal perusahaan akan membantu organisasi bertahan menghadapi krisis.

“Kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, akademisi, media, dan masyarakat sangat diperlukan untuk mengatasi krisis ekonomi,” ujar Kholifatus. “Krisis ekonomi adalah persoalan bersama yang tidak dapat diselesaikan hanya oleh satu pihak. Dibutuhkan koordinasi yang baik dan penyampaian informasi yang konsisten.”

Drs. Widiyatmo Ekoputro, M.A menilai bahwa keberhasilan suatu kebijakan tidak hanya ditentukan oleh kualitas kebijakannya, tetapi juga oleh bagaimana kebijakan tersebut dikomunikasikan kepada publik.

“Komunikasi bukan sekadar proses penyampaian pesan, tetapi juga sarana untuk membangun kepercayaan, menciptakan pemahaman bersama, dan memperkuat solidaritas sosial,” ujar Kholifatus.

Pada akhirnya, Kholifatus percaya bahwa komunikasi yang efektif mampu menciptakan kepercayaan dan mencegah munculnya kepanikan. Sistem komunikasi yang transparan, akurat, dan bertanggung jawab harus menjadi bagian penting dalam strategi menghadapi krisis ekonomi nasional.

“Dengan komunikasi yang baik, Indonesia tidak hanya memiliki peluang untuk bertahan dari berbagai tantangan ekonomi, tetapi juga mampu bangkit dan berkembang menuju masa depan yang lebih kuat dan berkelanjutan,” tutup mahasiswa tersebut.