Cara anak muda memilih tempat wisata berubah cepat dalam beberapa tahun terakhir. Dulu orang menentukan destinasi dari brosur atau rekomendasi keluarga. Sekarang Generasi Z memulai semuanya dari satu video yang muncul di beranda media sosial. Pertumbuhan internet mengubah cara mereka mencari, memilih, dan berbagi pengalaman liburan. Pariwisata kini bukan hanya soal mengunjungi suatu tempat. Pariwisata juga soal pengalaman yang dirasakan dan cerita yang ingin dibagikan kepada orang lain.
Yexy Margareta Sari, mahasiswa yang menulis kajian ini, melihat perubahan itu dari posisinya sebagai bagian dari Generasi Z. “Kalau dulu orang menentukan destinasi wisata dari brosur atau rekomendasi keluarga, sekarang semuanya bisa dimulai dari satu video yang muncul di beranda media sosial,” kata Yexy. Ia menjelaskan, anak muda kini mencari informasi lewat TikTok, Instagram, YouTube, atau ulasan online sebelum memutuskan berangkat. Mereka tidak hanya mencari lokasi. Mereka ingin tahu suasananya, aktivitas yang bisa dilakukan, biaya yang harus dibayar, dan pengalaman pengunjung sebelumnya.
Fenomena ini menempatkan komunikasi pariwisata pada posisi penting. Bagi Generasi Z, promosi yang terlalu formal atau sekadar menampilkan destinasi indah sudah tidak cukup. Mereka mencari komunikasi yang terasa nyata, dekat, dan mampu membentuk ikatan emosional. Pola komunikasi pun ikut bergeser. Dahulu pemerintah, pengelola destinasi, atau biro perjalanan yang memberi tahu masyarakat tentang tempat wisata. Sekarang setiap orang bisa menjadi komunikator pariwisata. Cerita perjalanan, foto, atau video yang dibagikan di media sosial mampu menarik ribuan orang dan memengaruhi keputusan mereka.
Antara Konten Viral dan Pengalaman Nyata
Generasi Z mencari pengalaman yang bermakna, bukan sekadar tempat yang sedang viral. Banyak anak muda tertarik pada destinasi yang memungkinkan interaksi dengan budaya lokal, mendukung kelestarian lingkungan, dan menawarkan pengalaman unik. Namun kemajuan media sosial membawa masalah. Banyak konten dibuat berlebihan demi menarik pengguna internet. Ekspektasi yang terbentuk sering tidak sesuai kenyataan. Ketika wisatawan datang dan menemukan keadaan yang berbeda, rasa kecewa sulit dihindari.
Yexy, menilai tantangan itu harus dijawab dengan kejujuran informasi. “Popularitas yang cepat tidak akan bertahan lama tanpa pengalaman yang memuaskan,” ujar Yexy. Ia menambahkan, promosi pariwisata Indonesia tidak seharusnya hanya mengejar destinasi viral. Membangun kepercayaan, memberi informasi yang akurat, dan menghadirkan pengalaman yang luar biasa jauh lebih penting bagi keberlanjutan sektor wisata.
Bagi Generasi Z, perjalanan wisata bukan lagi sekadar mengambil foto lalu pulang. Mereka mencari pengalaman, cerita, dan kenangan. Komunikasi pariwisata memainkan peran penting dalam mengubah konten menarik menjadi pengalaman nyata, bukan sekadar tampilan di layar ponsel. Komunikasi pariwisata kini tidak lagi hanya berbicara soal promosi destinasi. Komunikasi pariwisata berbicara soal bagaimana sebuah tempat mampu menghadirkan cerita yang bisa dirasakan, diingat, dan dibagikan kembali kepada orang lain.
Informasi Penulis
- Nama: Yexy Margareta Sari
- Dosen Pengampu: Drs. Widiyatmo Ekoputro, M.A.

Social Header