Media sosial kini menyatu dengan keseharian Generasi Z. Platform seperti TikTok, Instagram, dan YouTube tidak lagi sekadar tempat berkomunikasi dan mencari hiburan. Platform itu menjadi sumber informasi utama, termasuk referensi tempat wisata. Konten yang muncul di layar ikut membentuk persepsi pengguna dan menggerakkan keputusan mereka untuk berkunjung.

Fenomena ini terlihat jelas pada melonjaknya popularitas sejumlah destinasi di media sosial. Salah satunya kawasan Kayutangan Heritage di Kota Malang. Kawasan yang mengangkat wisata sejarah dan budaya ini memikat wisatawan muda lewat bangunan kolonial, suasana kota lama yang khas, dan banyak titik foto yang menarik. Nama kawasan ini rutin melintas di linimasa anak muda, terutama menjelang akhir pekan dan musim liburan.

Dalam komunikasi pariwisata, media sosial menjembatani informasi destinasi dengan calon wisatawan. Unggahan foto, video, ulasan, sampai cerita pengalaman pribadi membangun citra positif sebuah tempat. Informasi yang dulu hanya hadir lewat media konvensional kini sampai ke tangan pengguna dalam hitungan detik. Calon wisatawan bahkan bisa membandingkan suasana, harga, dan rute hanya dengan menelusuri kolom komentar dan tagar.

Wawancara dengan wisatawan Gen Z di Kayutangan Heritage memperkuat hal itu. Media sosial sangat memengaruhi minat mereka untuk datang. Cyrilla Yendi Agripina, wisatawan asal Banyuwangi, mengetahui kawasan tersebut dari konten yang kerap muncul di halaman FYP miliknya.

“Saya lihat banyak jajanan, harganya murah, bangunannya bagus, dan banyak spot foto yang indah. Itu yang membuat saya tertarik datang ke sini,” ujar Cyrilla.

Selain memasok informasi, media sosial memiliki kekuatan visual yang menumbuhkan daya tarik destinasi. Generasi Z akrab dengan konten visual. Foto dan video yang menampilkan keindahan sebuah tempat kerap menjadi pemicu utama keinginan untuk berkunjung. Visual yang rapi dan estetik membuat sebuah lokasi terasa layak dikunjungi sekaligus layak diabadikan.

Friza, pelajar asal Sidoarjo, menyampaikan pandangan serupa saat berkunjung ke Kayutangan Heritage pada masa libur sekolah. Dia menilai daya tarik kawasan ini terletak pada bangunan dan suasananya yang unik.

“Saya tertarik datang ke sini karena bangunannya indah dan banyak spot yang bagus. Selain itu, kawasan ini sangat populer di media sosial,” ujarnya.

Pernyataan itu memperlihatkan tren viral sebagai salah satu pendorong perilaku wisata Generasi Z. Tempat yang ramai dibicarakan dan dibagikan di media sosial menarik perhatian lebih besar ketimbang tempat yang minim eksposur. Viralitas lalu mendongkrak kunjungan dan menjelma menjadi popularitas. Siklus komunikasi pariwisata pun berputar. Wisatawan datang karena terdorong konten yang mereka lihat, lalu mereka memproduksi konten baru untuk ditonton pengguna lain. Konten baru itu kembali memancing rasa penasaran calon wisatawan berikutnya. Mereka menyerap informasi sekaligus menyebarkannya untuk mempromosikan destinasi.

Media sosial menjelma menjadi salah satu cara terbaik mempromosikan pariwisata di era modern. Karakternya cocok dengan Generasi Z karena menyajikan informasi secara cepat, visual, dan interaktif. Pengelola destinasi perlu memanfaatkan media sosial dengan cara inovatif dan konsisten untuk membentuk citra positif dan menjaring wisatawan muda.

Keberhasilan promosi pariwisata tidak hanya bergantung pada keindahan sebuah destinasi. Pemahaman publik tentang tempat itu sama pentingnya. Generasi Z memakai media sosial untuk mengubah rasa penasaran menjadi kunjungan nyata dan menjadikan liburan sebagai pengalaman yang mereka bagikan ke seluruh dunia.

Informasi penulis

  • Nama: Fadhilah Rahmah Ilmiyah
  • Dosen Pengampu: Drs. Widiyatmo Ekoputro, M.A.