Mempromosikan deretan pantai di Malang Selatan lewat media sosial belakangan ini terasa sangat mudah. Cukup ambil video dari udara menggunakan drone, tambahkan musik yang sedang tren, lalu beri label "Surga Tersembunyi di Jawa Timur". Dalam sekejap, ribuan tanda suka dan komentar antusias akan membanjiri unggahan tersebut. Namun, ada satu hal yang secara sistematis tidak pernah muncul dalam konten-konten indah tersebut: guncangan hebat di dalam kabin mobil atau perjuangan berat pengendara motor menghindari lubang maut saat mencoba mencapai pintu masuk pantai.

Sebagai mahasiswa Ilmu Komunikasi, saya melihat fenomena ini bukan sekadar masalah teknik sipil tentang aspal yang mengelupas. Ini adalah masalah kegagalan komunikasi publik yang sangat serius dalam industri pariwisata kita. Penerapan komunikasi dalam pariwisata seharusnya tidak hanya berhenti pada iklan yang cantik di layar ponsel, tetapi juga pada kenyataan yang dirasakan wisatawan di lapangan. Industri pariwisata pada dasarnya adalah industri pengalaman. Kita menjual janji tentang kenyamanan dan kebahagiaan. Namun, ketika janji manis di media sosial bertabrakan dengan realita pahit di atas aspal, yang terjadi adalah krisis kepercayaan.

Analisis ini menjadi sangat relevan jika kita bedah menggunakan konsep 4A (Attraction, Accessibility, Amenity, dan Ancillary). Komponen pertama, Attraction atau daya tarik pantai di Malang Selatan, memang luar biasa. Namun, daya tarik tersebut menjadi sia-sia jika komponen kedua, yaitu Accessibility (Aksesibilitas), justru mengirimkan pesan yang buruk. Dalam perspektif ilmu komunikasi, infrastruktur jalan adalah bentuk komunikasi non-verbal yang paling jujur. Jika jalan utama menuju destinasi dibiarkan hancur bertahun-tahun, pesan yang ditangkap oleh wisatawan adalah pengabaian. Pemerintah seolah mengirim pesan tanpa suara: "Kami ingin uang tiket kalian, tapi kami tidak peduli bagaimana cara kalian sampai di sini."

Kondisi jalan yang buruk ini menciptakan apa yang disebut sebagai noise atau gangguan dalam pengalaman wisata. Wisatawan datang dengan ekspektasi tinggi untuk membuang penat, namun mereka justru pulang dengan tingkat stres yang lebih tinggi karena memikirkan kondisi ban atau mesin kendaraan mereka yang tersangkut lubang. Pengalaman negatif ini akan membentuk narasi buruk yang menyebar melalui word of mouth (komunikasi mulut ke mulut). Di era digital, satu video pendek di TikTok tentang rusaknya jalan bisa menghancurkan reputasi sebuah destinasi yang sudah dibangun dengan biaya miliaran rupiah.

Selanjutnya adalah masalah Amenity (Fasilitas) dan Ancillary (Layanan Tambahan). Fasilitas pendukung di lokasi wisata tidak akan berfungsi maksimal jika akses utamanya saja sudah menyiksa. Ketimpangan infrastruktur ini menunjukkan kurangnya sinkronisasi komunikasi antara pemerintah daerah, dinas terkait, dan pengelola lokal. Seolah-olah masing-masing pihak berjalan sendiri tanpa satu narasi yang sama untuk memuliakan wisatawan. Pembangunan pariwisata harusnya bersifat menyeluruh. Tidak masuk akal jika kita terus menambah spot foto yang bagus, sementara jalan menuju ke sana dibiarkan seperti jalur off-road yang tidak direncanakan.

Pemerintah daerah tidak boleh terus-menerus menggunakan alasan klasik seperti keterbatasan anggaran. Perbaikan infrastruktur jalan menuju objek wisata harus dipandang sebagai investasi komunikasi jangka panjang. Ketika akses jalan mulus, arus wisatawan akan semakin lancar, dan ekonomi lokal di sekitar pantai, mulai dari warung makan hingga penginapan akan ikut tumbuh secara organik. Jalan yang bagus adalah "karpet merah" yang menyambut tamu, sedangkan jalan yang hancur adalah "pintu tertutup" yang membuat orang enggan datang kembali.

Sudah saatnya kita berhenti sekadar menjual "mimpi" di media sosial dan mulai memberikan "bukti" nyata di lapangan. Keindahan alam Malang Selatan adalah aset berharga yang tidak boleh dikalahkan oleh aspal yang terbengkalai. Sinkronisasi antara promosi yang gencar dengan kesiapan infrastruktur adalah harga mati. Kita butuh aksi nyata, bukan sekadar janji perbaikan di masa kampanye atau narasi indah dalam pidato seremonial.

Sebagai penutup, jangan biarkan wisatawan kita pulang dengan perasaan tertipu. Jangan biarkan mereka mengingat Malang Selatan sebagai tempat yang indah tapi menyiksa untuk dikunjungi. Karena pada akhirnya, keberhasilan penerapan komunikasi pariwisata bukan diukur dari seberapa banyak jumlah viewers di Instagram, melainkan dari seberapa aman dan nyamannya seorang wisatawan saat menempuh perjalanan hingga kembali ke rumah tanpa harus mampir ke bengkel. Pariwisata yang hebat adalah pariwisata yang memanusiakan tamunya, mulai dari titik keberangkatan hingga ke bibir pantai.

Artikel ini disusun sebagai bentuk refleksi kritis terhadap industri pariwisata di Indonesia, khususnya di Jawa Timur, dalam memenuhi penugasan dari dosen pengampu mata kuliah terkait, Bapak Drs. Widiyatmo Eko Putra, M.A. Fokus utama yang ingin diangkat adalah bagaimana penerapan komunikasi pariwisata seharusnya tidak hanya berhenti pada janji visual, melainkan harus selaras dengan kenyataan infrastruktur di lapangan.

Informasi Penulis

  • Nama : Dimas Angger
  • Nim : 1152300273
  • Matkul : Komunikasi Pariwisata / R