Industri pariwisata di Indonesia berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir. Data Badan Pusat Statistik mencatat kunjungan wisatawan nusantara mencapai lebih dari 800 juta perjalanan sepanjang 2023. Angka tersebut menunjukkan ruang persaingan antar destinasi semakin ketat. Anda perlu memahami satu kunci utama yang membuat sebuah tempat wisata mampu unggul, yaitu komunikasi yang efektif. Sebagus apa pun panorama atau bangunan, destinasi tetap sepi pengunjung jika pesannya gagal sampai ke audiens. Masjid Tiban Turen di Malang menjadi contoh menarik untuk Anda pelajari.

Masjid Tiban berdiri di Desa Sananrejo, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Bangunan ini menjadi bagian dari Pondok Pesantren Salafiyah Bihaaru Bahri ‘Asali Fadlaailir Rahmah atau Bi Ba’a Fadlrah. Arsitekturnya memadukan gaya Timur Tengah, India, dan Tiongkok dalam sepuluh lantai dengan kubah, ornamen, serta lorong yang rumit. 

Kompleks ini membentang sekitar delapan hektare. Perpaduan unsur visual tersebut menciptakan identitas yang sulit Anda temukan di destinasi lain. Daya tarik visual ini menjadi modal utama komunikasi nonverbal sejak wisatawan tiba di lokasi.

Cerita Rakyat dan Komunikasi Word of Mouth

Masjid Tiban populer karena cerita yang menyebar di masyarakat. Banyak orang mempercayai mitos bahwa jin membangun masjid ini dalam satu malam. Faktanya, KH Ahmad Bahru Mafdlaluddin Shaleh bersama para santri memulai pembangunan secara bertahap sejak 1987. Pohon kelapa di sekitar lokasi sempat menutupi proses pembangunan dari pandangan warga luar desa sehingga melahirkan kesalahpahaman. 

Pada Agustus 2006, para santri mengibarkan bendera berukuran 20 x 30 meter di tiang setinggi 62 meter. Aksi tersebut memicu rasa penasaran masyarakat luas dan menjadi titik viral pertama Masjid Tiban. Pengelola pesantren sudah berkali-kali meluruskan informasi tersebut. 

Mitos jin justru memperkuat rasa penasaran publik. Fenomena ini menunjukkan kekuatan word of mouth dalam komunikasi pariwisata. Kamu bisa melihat bagaimana cerita lisan tetap relevan di tengah arus informasi digital.

Branding dan Citra Destinasi

Dari sudut pandang komunikasi pariwisata, kasus Masjid Tiban berkaitan erat dengan konsep destination branding. Morgan dan Pritchard menjelaskan fenomena seperti ini melalui keunikan, emosi, dan asosiasi yang konsisten. 

Citra masjid yang unik dan misterius terbentuk lewat persepsi kolektif yang mengakar di benak publik. Branding tidak selalu lahir dari kampanye berbayar. Persepsi yang stabil dan berulang justru muncul dari pengalaman pengunjung serta cerita yang mereka bagikan. 

Pelajaran dari kasus ini sederhana, branding destinasi membutuhkan keunikan, konsistensi pesan, dan keterlibatan komunitas.

Peran Media Sosial

Media sosial mempercepat penyebaran cerita Masjid Tiban ke khalayak yang lebih luas. Konten video pendek di TikTok dan Instagram Reels dengan tagar Masjid Tiban menarik jutaan penonton.

Pengunjung membagikan foto kubah berwarna biru, lorong panjang, serta koleksi binatang di dalam kompleks pesantren. Setiap unggahan berfungsi sebagai iklan organik tanpa biaya. Algoritma platform digital kemudian memperluas jangkauan tersebut ke calon wisatawan baru, termasuk wisatawan asal Malaysia, Singapura, dan Tiongkok.

Beberapa kreator konten berbahasa Melayu bahkan mengulas Masjid Tiban dan menarik ratusan ribu penonton di kanal mereka. Pola komunikasi ini menggambarkan pergeseran dari promosi satu arah menuju percakapan dua arah antara destinasi dan pengunjung.

Pelajaran untuk Pengelola Wisata

Anda yang bekerja di sektor pariwisata dapat mengambil tiga pelajaran dari kasus Masjid Tiban. Pertama, ciptakan keunikan visual yang mudah pengunjung ingat dan sebarkan. Kedua, kelola narasi tentang destinasi Anda agar tetap konsisten meskipun publik menambahkan cerita versi mereka sendiri. Ketiga, libatkan pengunjung sebagai mitra promosi melalui pengalaman yang ramah konten digital.

Komunikasi visual, cerita masyarakat, dan media sosial bekerja secara berlapis dalam membangun daya tarik Masjid Tiban Turen. Keberhasilan sebuah destinasi bergantung pada ketepatan strategi komunikasi yang menghubungkan keunikan tempat dengan harapan wisatawan. Masjid Tiban menjadi bukti bahwa industri pariwisata Indonesia dapat tumbuh dengan memanfaatkan kekuatan komunikasi yang otentik.

Informasi Penulis

  • Nama : Norman Iskandar - 1152300055
  • Dosen Pengampu : Drs Widiyatmo Ekoputro, MA