Industri pariwisata saat ini tidak bisa dilepaskan dari kebutuhan untuk tampil menarik, terutama di era media sosial. Banyak destinasi berlomba-lomba menciptakan spot foto yang dianggap “instagramable” demi menarik perhatian wisatawan. Namun, di balik upaya tersebut, muncul pertanyaan penting: apakah semua bentuk visualisasi tersebut benar-benar memperkuat pengalaman wisata, atau justru merusaknya?

Pengalaman pribadi penulis saat mengunjungi beberapa destinasi wisata alam menunjukkan adanya fenomena yang cukup mengganggu. Pemandangan alam yang seharusnya indah dan alami justru dipenuhi dengan berbagai properti buatan, seperti tulisan “I Love [nama tempat]” atau instalasi dekoratif lainnya. Meskipun dimaksudkan untuk mempercantik dan menarik minat pengunjung, kehadiran elemen tersebut sering kali terasa tidak selaras dengan lingkungan sekitarnya.

Dalam perspektif ilmu komunikasi, fenomena ini dapat dianalisis menggunakan model komunikasi dari Harold Lasswell yang merumuskan komunikasi sebagai “Who says what in which channel to whom with what effect”. Model ini membantu memahami bagaimana pesan dalam pariwisata disampaikan dan diterima oleh wisatawan.

Jika dikaitkan dengan fenomena di atas, pengelola destinasi bertindak sebagai komunikator (who) yang ingin menyampaikan pesan tertentu (says what) melalui media visual berupa properti foto seperti tulisan atau dekorasi (in which channel) kepada wisatawan sebagai audiens (to whom). Tujuan akhirnya adalah menciptakan efek berupa ketertarikan, kepuasan, atau keinginan untuk membagikan pengalaman tersebut di media sosial (with what effect).

Namun, dalam praktiknya, efek yang dihasilkan tidak selalu sesuai dengan tujuan awal. Alih-alih menciptakan ketertarikan, penggunaan properti buatan yang berlebihan justru dapat menimbulkan kesan tidak alami. Wisatawan yang datang dengan harapan menikmati keindahan alam yang otentik dapat merasa kecewa karena pengalaman yang diperoleh tidak sesuai dengan ekspektasi. Hal ini menunjukkan adanya ketidaksesuaian dalam proses komunikasi, khususnya pada aspek “effect”.

Fenomena ini juga dapat dianalisis melalui konsep 4A dalam pariwisata, yaitu Attraction, Accessibility, Amenities, dan Ancillary Services. Dalam konteks ini, attraction (daya tarik) merupakan elemen utama yang menentukan minat wisatawan untuk berkunjung. Wisata alam pada dasarnya memiliki daya tarik berupa keindahan dan keaslian lingkungan. Namun, ketika daya tarik tersebut diintervensi secara berlebihan oleh elemen buatan seperti properti foto, maka terjadi pergeseran makna dari “alami” menjadi “artifisial”.

Sementara itu, aspek amenities (fasilitas) memang penting untuk menunjang kenyamanan wisatawan, tetapi perlu dirancang secara bijak agar tidak merusak nilai utama destinasi. Penambahan fasilitas yang tidak kontekstual justru dapat mengganggu pengalaman wisata. Di sisi lain, aspek accessibility (aksesibilitas) dan ancillary services (layanan pendukung) seharusnya menjadi fokus utama pengelola dalam meningkatkan kualitas pariwisata tanpa harus mengorbankan keaslian lingkungan.

Lebih jauh lagi, fenomena ini menunjukkan bahwa tidak semua wisatawan memiliki preferensi yang sama. Sebagian mungkin menyukai spot foto buatan, tetapi sebagian lainnya justru mencari keaslian dan ketenangan. Ketika pengelola menggunakan pendekatan yang seragam, maka komunikasi yang dibangun menjadi kurang tepat sasaran.

Oleh karena itu, pengelola destinasi perlu lebih bijak dalam merancang komunikasi visual sekaligus mengelola unsur 4A secara seimbang. Pendekatan yang lebih efektif adalah dengan menonjolkan keunikan alami yang sudah dimiliki, sehingga pesan yang disampaikan selaras dengan pengalaman yang dirasakan wisatawan.

Pada akhirnya, pariwisata bukan hanya soal menarik perhatian, tetapi juga tentang menciptakan pengalaman yang bermakna. Melalui penerapan komunikasi yang tepat dan pengelolaan destinasi yang bijaksana, potensi keindahan alam dapat tetap terjaga tanpa kehilangan nilai autentiknya.

Artikel ini disusun oleh Alfarobi Ibnu Sifak sebagai bagian dari tugas mata kuliah yang diampu oleh Drs. Widiyatmo Ekoputro, M.A., dengan fokus pada kajian penerapan komunikasi dalam industri pariwisata.