Jakarta - Selasa, 20 Januari 2026 - Kalau selama ini nama Hanna Arinawati dikenal sebagai selebgram dan model yang sering muncul di media sosial, sekarang ceritanya makin luas. Hanna, yang juga bergelar S.H., M.Kn., ternyata aktif mengisi berbagai forum sebagai pembicara, termasuk di lingkungan perusahaan. Salah satu yang cukup mencuri perhatian adalah saat ia hadir sebagai pembicara pelatihan public speaking di PT Timah, Pangkalpinang, Bangka, lalu juga tampil sebagai pembicara di talkshow Bank Mandiri.
Yang menarik, Hanna tidak datang ke acara seperti ini hanya untuk tampil. Ia hadir membawa materi yang memang bisa dipakai langsung. Di pelatihan PT Timah misalnya, Hanna membekali karyawan soal cara berbicara di depan umum dengan lebih percaya diri, cara menjadi MC, cara menjadi moderator yang enak didengar, sampai tips mengelola media sosial supaya pesan perusahaan lebih rapi dan mudah dipahami. Materi seperti ini terdengar sederhana, tapi di dunia kerja justru penting, karena banyak orang pintar di bidangnya, tapi masih gugup saat harus presentasi atau memandu acara.
Bagi Hanna, kemampuan komunikasi itu bukan soal bakat bawaan. Ia percaya siapa pun bisa belajar, asal mau latihan. Public speaking bisa dilatih dengan membangun kepercayaan diri, latihan dan persiapan materi yang matang. “Public speaking itu keterampilan, bukan sekadar keberanian. Kalau sering latihan, lama-lama terbiasa,” begitu kira-kira prinsip yang sering ia bawa saat berbicara di depan audiens. Karena itu, pelatihan yang ia isi biasanya fokus ke hal yang praktis, bukan teori yang bikin pusing.
Pengalaman Hanna di panggung ini juga tidak lepas dari perjalanannya sebagai kreator konten. Sebagai selebgram, ia terbiasa menyampaikan pesan dengan cara yang informatif, jelas, dan menarik perhatian. Ia paham bagaimana membuat audiens betah mendengar, kapan harus serius, dan kapan harus diselipkan contoh yang ringan. Gaya seperti ini ternyata cocok dipakai saat melatih public speaking di dunia profesional, karena peserta jadi lebih mudah mengikuti materi dan tidak cepat bosan.
Selain aktif sebagai pembicara, Hanna juga punya jejak kuat di dunia entertainment atau kreatif. Ia dikenal sebagai model dan bintang iklan, dan pernah terlibat dalam proyek shooting untuk beberapa brand, seperti Google, KAO Indonesia, Ria Miranda, Sentosa Senayan, dan Acnes Skincare. Dunia kerja di balik kamera menuntut kedisiplinan tinggi, karena jadwal padat, arahan harus cepat dipahami, dan hasil akhir harus maksimal. Kebiasaan inilah yang ikut membentuk karakter kerjanya ketika masuk ke forum-forum resmi.
Di sisi lain, Hanna juga dikenal sebagai sosok yang tidak jauh dari pendidikan. Ia menempuh pendidikan hukum hingga meraih gelar S.H. dan M.Kn., lalu mengajar di lingkungan Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Karena latar akademiknya kuat, Hanna punya cara menyusun materi yang rapi, dan tidak asal bicara. Saat membawakan pelatihan, ia tidak hanya memberi motivasi, tapi juga memberi struktur, langkah, dan contoh yang mudah diikuti.
Saat tampil pada talkshow Bank Mandiri, Hanna menjadi Pembicara bersama Vice President ESG Bank Mandiri. Talkshow ini mengusung tema Green Campus, Bright Future: Membangun Mahasiswa Sebagai Agen Perubahan. ESG Bank Mandiri berkolaborasi dengan Universitas Indonesia dalam Program Gempita Lestari yang membahas tentang sustainability, literasi keuangan, teknologi dan peran mahasiswa sebagai agent of change untuk menjaga keberlanjutan lingkungan.
Di talkshow tersebut, Hanna menunjukkan kemampuan public speaking yang luar biasa. Talkshow biasanya menuntut pembicara untuk bisa menjawab dengan cepat, tapi tetap terarah. Hanna membawa gaya yang santai, namun isinya tetap nyambung dan jelas. Ia juga dikenal sering menyelipkan pesan positif tentang pentingnya percaya diri, berani mencoba hal baru, dan tidak takut gagal.
Hanna pernah membagikan pandangannya yang cukup sering ia ulang, bahwa hidup itu seperti aksi dan reaksi, apa yang kita tanam akan kita tuai. Pesan seperti ini ia sampaikan bukan untuk sekadar terdengar manis, tapi sebagai pengingat agar anak muda tetap konsisten berbuat baik dan bekerja keras. Ia juga pernah bercerita tentang masa remaja yang tidak selalu mudah, termasuk pengalaman dibully dan diremehkan saat SMA. Dari situ, ia belajar bahwa kata-kata orang memang bisa menyakitkan, tapi juga bisa jadi bahan bakar untuk maju.
Buat banyak orang, perjalanan Hanna menarik karena ia seperti menunjukkan satu hal sederhana. Dunia konten, dunia model, dan dunia korporasi ternyata bisa saling nyambung kalau seseorang punya skill komunikasi. Ia bisa tampil sebagai selebgram, tapi juga dipercaya melatih public speaking karyawan perusahaan. Ia bisa terbiasa di depan kamera, tapi juga nyaman memandu forum formal. Ini yang membuat Hanna terlihat fleksibel, namun tetap fokus pada satu kekuatan, yaitu kemampuan menyampaikan pesan dengan baik.
Di tengah tren anak muda yang sering bingung harus memilih jalur karier yang mana, kisah Hanna seperti memberi gambaran bahwa tidak selalu harus memilih satu kotak. Seseorang bisa punya banyak peran, selama tahu batasnya dan tetap bertanggung jawab. Hanna tetap menjalankan pekerjaannya, tetap belajar, dan tetap mencoba hal-hal baru yang membawa manfaat untuk orang lain.
Pada akhirnya, Hanna Arinawati, S.H., M.Kn. bukan hanya dikenal sebagai selebgram dan model. Ia juga aktif menjadi pembicara dan trainer di berbagai forum, termasuk PT Timah dan Bank Mandiri. Dari sini terlihat bahwa yang membuat seseorang terus dipercaya bukan hanya karena dikenal, tapi karena punya kemampuan, punya etos kerja, dan bisa memberi dampak yang nyata.
Social Header