Public speaking kini menjadi salah satu keterampilan paling krusial bagi Generasi Z yang tumbuh di tengah derasnya arus informasi dan teknologi digital. Generasi ini bukan hanya menjadi konsumen konten, tetapi juga produsen gagasan yang setiap hari hadir di media sosial, ruang kelas, hingga forum komunitas. Di tengah persaingan global yang kian ketat, kemampuan menyampaikan ide secara jelas, menarik, dan meyakinkan menjadikan public speaking sebagai modal penting untuk bertahan sekaligus berkembang.
Secara sederhana, public speaking dapat dipahami sebagai kemampuan berbicara di depan banyak orang dengan tujuan menyampaikan pesan tertentu, baik secara langsung maupun melalui berbagai platform digital. Jika dahulu public speaking identik dengan pidato formal di panggung, bagi Gen-Z bentuknya jauh lebih beragam seperti : presentasi di kelas, siaran langsung di TikTok atau Instagram, video pendek edukatif, hingga podcast yang dikemas santai namun penuh makna. Perubahan bentuk ini menunjukkan bahwa public speaking telah bertransformasi mengikuti gaya komunikasi generasi muda yang serba cepat, visual, dan interaktif.
Konteks dunia kerja dan pendidikan menempatkan public speaking sebagai keterampilan yang tidak bisa diabaikan. Perusahaan dan institusi kini mencari anak muda yang bukan hanya cerdas secara akademik, tetapi juga mampu mengomunikasikan ide dengan runtut, persuasif, dan percaya diri. Presentasi proyek, pitching bisnis, hingga memimpin rapat kecil menuntut kemampuan berbicara di depan orang lain, sehingga Gen-Z yang terbiasa berlatih public speaking umumnya lebih siap memasuki dunia profesional. Di kampus, mahasiswa yang terampil berbicara di depan umum cenderung lebih aktif berdiskusi, berani bertanya, serta tidak canggung saat diminta memaparkan hasil tugas di depan kelas.
Di era kecerdasan buatan, public speaking juga tampil sebagai salah satu soft skill yang sulit tergantikan oleh mesin. Teknologi dapat membantu menyusun data dan informasi, tetapi sentuhan manusia diperlukan untuk menyusun narasi yang menyentuh emosi, membangun kepercayaan, dan menggerakkan audiens. Gen-Z yang menguasai public speaking memiliki kelebihan dalam menyampaikan pesan dengan empati, spontanitas, dan kehangatan yang tidak bisa direplikasi algoritma. Hal ini menjadikan public speaking sebagai senjata penting untuk tetap relevan di tengah otomatisasi berbagai bidang kerja.
Media sosial membuka panggung sangat luas bagi Gen-Z untuk mempraktikkan public speaking dalam keseharian. Melalui live streaming, konten edukasi singkat, atau video motivasi, mereka dapat membangun personal branding sebagai sosok yang kompeten, peduli isu tertentu, atau ahli di bidang yang digeluti. Keterampilan berbicara di depan kamera membantu mereka menjangkau ratusan hingga ribuan orang tanpa harus hadir secara fisik di satu ruangan. Tidak mengherankan bila banyak survei menunjukkan tingginya minat Gen-Z terhadap bidang public speaking dan content creation, karena keduanya menjanjikan peluang karier sekaligus ruang ekspresi diri.
Manfaat public speaking bagi Gen-Z juga sangat terasa dalam ranah pengembangan kepercayaan diri. Banyak anak muda yang awalnya pemalu dan enggan berbicara di depan umum, berubah lebih berani setelah mengikuti pelatihan, komunitas debat, atau kegiatan organisasi yang menuntut mereka sering tampil. Proses menyiapkan naskah, melatih intonasi, dan menerima umpan balik dari audiens perlahan membentuk rasa percaya diri, kemampuan mengelola gugup, serta keberanian mengambil risiko sosial. Keterampilan ini kemudian terbawa ke aspek lain kehidupan, seperti saat wawancara kerja, bernegosiasi, atau membangun relasi baru.
Lebih jauh lagi, public speaking memberi ruang bagi Gen-Z untuk terlibat aktif dalam isu-isu sosial yang mereka pedulikan. Mulai dari lingkungan, kesehatan mental, kesetaraan gender, hingga literasi digital, generasi ini sering kali menjadi penggerak kampanye dan diskusi publik. Melalui pidato singkat, konten edukatif, atau talkshow online, mereka dapat mengemas isu kompleks menjadi pesan yang mudah dipahami dan menyentuh hati. Dengan cara ini, public speaking bukan hanya alat untuk meraih prestasi pribadi, tetapi juga sarana memberi dampak positif bagi masyarakat luas.
Melihat berbagai aspek tersebut, pentingnya public speaking bagi Gen-Z tidak lagi sekadar tren, melainkan kebutuhan nyata di era yang serba terbuka dan kompetitif. Keterampilan ini menjembatani antara pengetahuan dan tindakan, antara gagasan dan perubahan. Gen-Z yang mau berlatih sejak dini baik melalui kelas formal, komunitas, maupun memanfaatkan media digital akan memiliki bekal lebih kuat untuk menata masa depan, sekaligus berkontribusi nyata dalam membentuk wajah dunia yang akan mereka tinggali.
Satu pesan dari penulis adalah, “Di era ketika ide bisa viral dalam hitungan detik, kemampuan berbicara adalah jembatan antara potensi dan kesempatan. Semakin terlatih Anda menyampaikan gagasan, semakin luas pintu yang terbuka , mulai dari ruang kelas, panggung profesional, hingga forum global. Jangan biarkan suara Anda hanya terdengar di kepala sendiri, ketika dunia justru menunggu untuk mendengarkannya.”
Penulis : Debora Lie
Mahasiswa Ilmu Komunikasi UNTAG 1945 Surabaya
Artikel ini dibuat untuk pemenuhan tugas evaluasi akhir semester, mata kuliah PUBLIC SPEAKING dengan dosen pengampu Bpk. Drs. Widiyatmo Ekoputro, M.A.
Social Header