(Foto: Finta Rahyuni/detikSumut)

Jakarta, DKI Jakarta - Rabu, 31 Desember 2025 — Kasus tragis seorang siswi yang membunuh ibu kandungnya dan diduga terinspirasi dari game online kembali memicu perhatian serius DPR RI. Komisi I DPR meminta pemerintah memperketat pengawasan platform digital, khususnya konten yang dapat diakses anak-anak.

Wakil Ketua Komisi I DPR RI menilai peristiwa tersebut menjadi alarm keras atas lemahnya kontrol terhadap konten digital berunsur kekerasan yang beredar luas di ruang digital. Menurutnya, anak-anak yang masih berada pada fase perkembangan psikologis rentan meniru perilaku agresif yang mereka lihat dari gim atau tayangan daring tanpa pendampingan orang tua.
“Game dan hiburan digital pada dasarnya tidak salah, namun ketika dikonsumsi tanpa pengawasan, terutama oleh anak-anak, risikonya sangat besar,” ujar perwakilan Komisi I DPR dalam keterangannya.

Anak Rentan Salah Tafsir Konten Kekerasan
Komisi I DPR menyoroti bahwa usia anak sekolah belum sepenuhnya mampu membedakan realitas dan fiksi. Paparan konten ekstrem, termasuk adegan kekerasan dalam game, dikhawatirkan dapat memengaruhi cara berpikir dan pengambilan keputusan anak.

Oleh karena itu, DPR mendorong penguatan literasi digital sejak dini, baik di lingkungan keluarga maupun sekolah. Orang tua diminta lebih aktif memantau durasi bermain game, jenis konten yang diakses, serta memberikan pendampingan emosional kepada anak.
DPR Dorong Regulasi dan Tanggung Jawab Platform
Selain peran keluarga, DPR menegaskan pentingnya tanggung jawab penyedia platform digital. Platform dinilai perlu memiliki sistem penyaringan konten yang lebih ketat, terutama bagi pengguna di bawah umur, agar konten berbahaya tidak mudah diakses.

“Negara tidak boleh kalah cepat dengan perkembangan teknologi. Regulasi dan pengawasan harus diperkuat agar ruang digital tetap aman bagi anak-anak,” tegasnya.
Kasus Jadi Peringatan Nasional
Sebelumnya, pihak kepolisian mengungkap bahwa motif pembunuhan diduga berkaitan dengan obsesi terhadap game online dan konten visual bertema kekerasan. Kasus ini pun menjadi peringatan nasional akan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, platform digital, sekolah, dan orang tua dalam melindungi anak di era digital.