Media sosial telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat modern. Melalui berbagai platform digital, informasi dapat diakses dengan cepat, mudah, dan tanpa batas. Berita, opini, hiburan, hingga isu sosial tersebar luas hanya dalam hitungan detik. Namun, kemudahan ini juga membawa tantangan baru, yaitu munculnya informasi yang tidak selalu benar, tidak lengkap, bahkan menyesatkan. Dalam situasi tersebut, kemampuan berpikir logis dan kritis menjadi sangat penting agar masyarakat tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang beredar di media sosial.
Fenomena penyebaran informasi di media sosial melibatkan hampir seluruh lapisan masyarakat yang paling terlibat adalah pengguna aktif media sosial, terutama generasi muda yang sehari-harinya tidak lepas dari gawai dan internet. Mereka sering menjadi sasaran utama berbagai konten viral, mulai dari berita aktual hingga isu sensitif yang memicu emosi.
Informasi yang datang tanpa henti yakni bencana banjir. Tidak semua informasi tersebut berasal dari sumber yang kredibel. Banyak konten dibuat hanya untuk menarik perhatian, meningkatkan jumlah tayangan, atau menyebarkan opini tertentu. Akibatnya, batas antara fakta dan hoaks menjadi semakin kabur. Tanpa kemampuan berpikir kritis, pengguna media sosial mudah mempercayai dan menyebarkan informasi yang belum tentu benar.
Fenomena ini terjadi terutama di platform media sosial seperti Instagram, TikTok, X, Facebook, dan aplikasi pesan instan. Platform-platform tersebut memungkinkan siapa saja untuk menjadi pembuat dan penyebar informasi, tanpa melalui proses penyaringan yang ketat seperti pada media massa konvensional. Hal ini membuat informasi dapat tersebar luas dalam waktu singkat, baik informasi yang benar maupun yang keliru.
Kondisi ini semakin terasa sejak penggunaan media sosial meningkat pesat dalam beberapa tahun terakhir. Perkembangan teknologi digital yang cepat membuat masyarakat terbiasa menerima informasi secara instan. Kebiasaan ini sering kali membuat pengguna kurang teliti dan tidak sempat memverifikasi kebenaran informasi sebelum bereaksi atau membagikannya.
Dalam hal ini logika dan berpikir kritis sangat dibutuhkan dalam bermedia sosial karena tanpa kemampuan tersebut, masyarakat rentan terjebak hoaks, provokasi, dan informasi yang bersifat manipulatif. Berpikir logis membantu seseorang menilai apakah informasi masuk akal atau tidak, sedangkan berpikir kritis mendorong individu untuk mempertanyakan sumber, tujuan, dan dampak dari informasi yang diterima. Dengan demikian, pengguna tidak mudah terpengaruh oleh konten yang hanya memancing emosi seperti rasa takut, marah, atau iri.
Dengan demikian cara yang tepat untuk menerapkan logika dan berpikir kritis dalam bermedia sosial dapat dimulai dengan langkah sederhana. Pengguna perlu membiasakan diri membaca informasi secara utuh, tidak hanya berdasarkan judul. Selain itu, penting untuk memeriksa sumber informasi, membandingkan dengan media terpercaya, serta memahami konteks waktu dan tempat suatu peristiwa. Pengguna juga perlu menyadari bahwa tidak semua yang viral atau populer memiliki nilai kebenaran. Dengan ini kita sebagai pengguna supaya menggunakan media sosial dengan cara bih bijak dan bertanggung jawab.
Berpikir kritis juga berperan dalam membangun interaksi yang sehat di media sosial. Pengguna tidak mudah terprovokasi dalam perdebatan, mampu menghargai perbedaan pendapat, dan lebih fokus pada diskusi yang konstruktif. Hal ini berdampak positif tidak hanya bagi individu, tetapi juga bagi kualitas ruang digital secara keseluruhan.
Cerdas bermedia sosial bukan hanya tentang kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga tentang bagaimana menyikapi informasi dengan logika dan berpikir kritis. Di tengah derasnya arus informasi, masyarakat perlu memiliki kesadaran untuk tidak mudah percaya dan menyebarkan informasi tanpa verifikasi. Dengan berpikir logis dan kritis, media sosial dapat dimanfaatkan sebagai sarana memperoleh pengetahuan, memperluas wawasan, dan membangun komunikasi yang sehat. Pada akhirnya, kemampuan ini menjadi kunci agar media sosial tidak menjadi sumber masalah, melainkan alat yang bermanfaat bagi kehidupan masyarakat di era digital.
Info Penulis:
Putri Sekar Aryaningtyas (1152500114)
Logic and Critical Thinking/C
Untuk memenuhi tugas Widiyatmo Ekoputro. Dosen pengampu mata kuliah Logic and Critical Thinking
Social Header