Surabaya, Jawa Timur - Selasa, 28 Oktober 2025 - Lari, yang dulu sekadar soal keringat dan napas terengah, kini menjelma menjadi ajang penampilan. Di tangan generasi Z, olahraga berubah menjadi ruang estetik—tempat setiap langkah dihitung bukan dengan jarak, melainkan seberapa keren outfit yang dikenakan. Dari sepatu edisi terbatas, sport bra warna senada, hingga smartwatch yang tampil lebih sebagai aksesori ketimbang alat ukur detak jantung, semuanya menjadi bagian dari narasi kalcer (culture) yang kini mendominasi gaya hidup anak muda urban.
Fenomena ini menunjukkan pergeseran makna: olahraga tidak lagi semata aktivitas fisik, melainkan juga cara membentuk identitas visual. Media sosial menjadi saksi utama, di mana setiap sesi lari berakhir bukan dengan pendinginan, tetapi dengan unggahan fit check di Instagram Story atau TikTok. Klub lari dan acara maraton kini lebih menyerupai pertemuan komunitas gaya hidup ketimbang ajang kebugaran.
Budaya Kalcer dan Identitas Sosial
Istilah kalcer—singkatan dari culture—menjadi simbol bagaimana Gen Z mengekspresikan diri melalui estetika. Dari nongkrong di kafe kopi, berburu pakaian vintage, hingga bergabung dengan klub lari, semua dijalani dengan pola serupa: membangun citra diri yang diterima dan menarik secara visual.
Lari yang dahulu identik dengan ketenangan kini dilengkapi dengan playlist, kamera, dan niat untuk mengabadikan momen. Banyak yang datang ke acara lari bukan untuk mencapai garis finis, melainkan untuk berfoto di garis start dengan pakaian terbaiknya.
Di sisi lain, budaya ini juga menimbulkan paradoks. Gen Z tampak sadar akan kesehatan dan aktif di ruang publik, tetapi makna asli olahraga mulai memudar. Tubuh tidak lagi dirawat demi kesejahteraan, melainkan dipoles agar tampil bagus di media sosial. Keringat bukan lagi tanda perjuangan, melainkan bagian dari gaya hidup yang dikurasi.
Tekanan Visual di Era Algoritma
Budaya kalcer membawa tekanan tersendiri bagi generasi muda. Aktivitas yang seharusnya bersifat pribadi kini terjebak dalam tuntutan untuk terlihat. Mereka berlari sambil memikirkan bukan hanya napas dan ritme tubuh, tetapi juga apakah pakaian mereka cocok dengan kamera, apakah pose mereka cukup menarik untuk feed, dan apakah unggahan mereka akan mendapat banyak likes.
Fenomena ini tidak lepas dari sistem kapitalisme estetika dan budaya visual digital. Generasi Z tumbuh di dunia yang diatur oleh algoritma, di mana visibilitas menjadi bentuk nilai sosial. Aktivitas seperti lari tidak lagi dinilai dari manfaat kesehatannya, tetapi dari seberapa menarik tampilannya di media sosial.
Platform seperti Instagram dan TikTok memberi “penghargaan sosial” bagi mereka yang rutin menampilkan diri. Proses kurasi ini menjadi pekerjaan tak terlihat yang terus dilakukan demi mempertahankan eksistensi di ruang digital.
Kasus di Kota-Kota Besar
Fenomena ini tampak jelas di kota-kota besar Indonesia, termasuk Surabaya. Komunitas lari seperti Kéatclub, Galausports, dan Union Subculture kerap menjadi ajang pertemuan anak muda urban yang lebih menonjolkan gaya dan jejaring sosial daripada capaian fisik.
Feed Instagram mereka dipenuhi foto pelari dengan outfit senada, pose dinamis, dan latar kota yang estetik—sebuah perpaduan antara olahraga dan fashion show jalanan. Dalam konteks sosial, hal ini melahirkan sistem nilai baru: kesehatan bukan lagi tujuan, melainkan alat untuk membangun citra diri.
Gen Z hidup dalam ekosistem visual yang membuat setiap aktivitas menjadi konten. Tubuh pun berubah menjadi objek yang harus dikurasi. Akibatnya, motivasi berolahraga beralih dari kebutuhan akan keseimbangan fisik menjadi kebutuhan akan validasi sosial. Mereka yang tidak mengikuti standar estetika sering tersisih secara simbolik—tidak dianggap “masuk” dalam komunitas urban yang sedang tren.
Antara Estetika dan Autentisitas
Dampak jangka panjangnya cukup besar. Olahraga kehilangan makna aslinya sebagai aktivitas yang menyeimbangkan tubuh dan jiwa. Norma baru berbasis penampilan menciptakan tekanan kolektif dan memperlebar kesenjangan sosial di ruang publik. Aktivitas yang seharusnya sederhana kini berubah menjadi tontonan. Bahkan ketika berlari sendirian, mata kamera seolah selalu mengikuti.
Namun, masih ada ruang untuk berpikir kritis. Kesadaran terhadap budaya visual ini bisa menjadi langkah awal bagi Gen Z untuk merebut kembali makna tubuh dan olahraga sebagai ruang autentik. Berlari tanpa kamera atau tanpa harus berpakaian tertentu bisa menjadi bentuk perlawanan kecil terhadap dominasi estetika yang mengatur kehidupan modern.
Kesehatan sejatinya bukan tentang seberapa indah seseorang tampak berlari, melainkan seberapa jujur ia terhadap tubuhnya sendiri.
Mengatur Ulang Makna Budaya
Budaya kalcer di kalangan Gen Z menunjukkan kontradiksi antara kebebasan berekspresi dan keterjebakan dalam sistem representasi. Generasi ini mampu menjadikan aktivitas sehari-hari sebagai bentuk identitas dan kreativitas. Mereka mengubah olahraga menjadi ruang komunikasi sosial, simbol persatuan, sekaligus ekspresi estetika.
Namun, kebebasan itu kerap bersifat semu karena diarahkan oleh algoritma, tren, dan ekspektasi sosial yang diterima tanpa sadar. Jika tidak ada kesadaran kritis, budaya kalcer dalam olahraga berpotensi mengubah nilai kebugaran menjadi konsumsi visual semata. Nilai-nilai seperti kesederhanaan, sportivitas, dan kejujuran bisa tenggelam di bawah lapisan pencitraan dan tren komersial.
Fenomena ini tentu tidak sepenuhnya negatif. Di balik estetika dan konsumsi, ada potensi besar untuk membangun komunitas yang inklusif dan kolaboratif. Jika dimanfaatkan dengan bijak, budaya visual Gen Z dapat menjadi sarana untuk menumbuhkan kesadaran kolektif, bukan sekadar alat pencitraan diri.
Kuncinya terletak pada agency—kemampuan individu mengontrol representasi dirinya sendiri, bukan tunduk pada logika pasar. Tantangan ke depan bukanlah menolak budaya kalcer, melainkan menata ulang agar budaya ini tidak menghapus makna autentik dari aktivitas manusia.
Gen Z perlu belajar membedakan antara berolahraga untuk diri sendiri dan berolahraga untuk kamera. Brand serta komunitas harus menyeimbangkan nilai estetika dengan keadilan sosial. Dan masyarakat luas perlu menghargai tubuh sebagai ruang pengalaman, bukan sekadar permukaan visual.
Karena pada akhirnya, keringat seharusnya dirayakan sebagai bukti bahwa tubuh masih bisa bergerak—bukan hanya untuk tampil.
Penulis: Andra Rizky Syahputra
NIB: 152300063
Mata Kuliah: Creative Writing
Tugas: Opini Publik
Disclaimer:
Opini ini merupakan pandangan pribadi penulis dan tidak mencerminkan sikap redaksi.
Artikel ini telah tayang di
Mediamassa.co.id
Social Header