Jepara – Jateng
Anggapan masyarakat mengenai kehidupan di dalam penjara atau Rumah Tahanan (Rutan) yang identik dengan suasana mencekam, nampaknya harus dikaji ulang. Team mediamassa.co.id justru menemukan fakta sebaliknya di Rutan Kelas IIB Jepara. Dalam pantauan pada kamis 31/04/2026, ternyata para Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) menjalani hari-hari dengan penuh kegiatan positif dan produktif
Jauh dari kesan terkurung tanpa aktivitas, setiap pagi hingga waktu Dzuhur, area Rutan Jepara justru tampak sibuk dengan berbagai pelatihan dan pembinaan.
Sisi spiritual menjadi fondasi utama dalam membina warga binaan. Bekerja sama dengan Kementerian Agama (Kemenag), Rutan Jepara rutin menggelar pembinaan rohani sebanyak tiga kali dalam seminggu.
Menariknya, para warga binaan tidak hanya menjadi pendengar, tetapi juga aktif berekspresi. Rutan Jepara memiliki kelompok Hadroh yang personilnya merupakan warga binaan itu sendiri. Kemahiran mereka dalam memainkan alat musik perkusi Islami ini membuktikan bahwa talenta seni tidak lantas mati di balik jeruji besi.
Sesuai dengan julukan Jepara sebagai Kota Ukir, Rutan Jepara memberikan ruang bagi para napi untuk mengasah keterampilan mebel. Hasil karya mereka, mulai dari ukiran hingga produk furnitur, diklaim memiliki kualitas yang bersaing dengan pengrajin di luar rutan.
Selain mebel, program kemandirian juga menyasar sektor pertanian dan peternakan. Dengan memanfaatkan lahan yang ada di area rutan, para warga binaan bercocok tanam berbagai jenis kebutuhan pangan, seperti: Kemangi, Kacang Panjang serta Terong, Sereh, dan tanaman pangan lainnya. Selain itu ada peternakan kambing, ayam dan lele.
Selain aspek keterampilan, aspek psikologis juga sangat diperhatikan. Pihak Rutan menyediakan fasilitas komunikasi agar warga binaan tetap bisa melepas rindu dengan keluarga. Tidak hanya telepon suara, mereka juga diberikan fasilitas Video Call untuk memastikan silaturahmi tetap terjaga meski raga terpisah jarak.
Kepala Rutan Jepara Renza Maisetyo menyampaikan bahwa seluruh kegiatan ini bertujuan agar para warga binaan memiliki bekal yang cukup saat bebas nanti.
"Kehidupan di sini tidak semengerikan yang dibayangkan. Mereka diberi ruang bersosialisasi, berolahraga, dan belajar mandiri. Selain itu bimbingan dan pembinaan rohani juga dilakukan supaya Mereka sudah memiliki mental yang kuat saat dinyatakan bebas. Harapannya, dengan pembinaan rohani/spiritual dan keterampilan, saat bebas nanti Mereka memiliki kesiapan mental dan bisa berdikari sehingga tidak kembali lagi ke sini" ungkapnya
Andri
Social Header