Indonesia punya begitu banyak destinasi wisata sejarah yang kadang tenggelam di tengah cepatnya perkembangan kota. Salah satunya Kampung Peneleh di Surabaya, sebuah kawasan lama yang menyimpan jejak masa kolonial Belanda sekaligus budaya khas Jawa pesisir. Tempat ini bukan cuma kumpulan bangunan tua, tapi seperti ruang hidup yang penuh cerita, hanya saja belum banyak yang benar-benar mengangkatnya ke permukaan.
Suatu siang di kantin kampus, obrolan ringan Mutiara Ramadhani Firdaus, mahasiswa semester enam Ilmu Komunikasi, bercerita tentang kunjungannya ke Kampung Peneleh. “Tempatnya bagus banget buat foto, tapi kok sepi ya. Padahal ada makam leluhurnya Bung Karno,” ujarnya. Kalimat sederhana itu terasa jujur, sekaligus menyentil satu persoalan besar, potensi ada, tapi belum tersampaikan dengan cara yang tepat.
Masalah ini sebenarnya bukan hal baru. Dalam perkuliahan, Drs. Widiyatmo Ekoputro, M.A. sering menekankan bahwa pariwisata bukan sekadar soal tempat, tapi soal bagaimana tempat itu diceritakan. Di era sekarang, cerita bukan lagi disampaikan lewat brosur atau baliho, melainkan lewat platform media sosial yang mengandalkan emosi, kedekatan, dan keaslian.
Kalau dilihat lebih dekat, Kampung Peneleh sebenarnya sudah punya semua “bahan mentah” untuk jadi viral. Visual bangunan kolonialnya estetik dan cocok untuk konten Instagram. Sudut-sudut kampungnya punya nuansa yang kuat untuk video pendek seperti TikTok. Ditambah lagi, cerita di balik setiap lorongnya, tentang sejarah, keberagaman, dan kehidupan kota lama Surabaya punya daya tarik yang tidak dibuat-buat. Yang belum ada hanyalah orang-orang yang mau mengolah semua itu jadi cerita yang hidup.
Di sinilah peran konten kreator jadi penting. Bukan sekadar datang, ambil gambar, lalu pergi, tapi benar-benar merasakan suasana kampungnya. Bayangkan seorang travel creator yang duduk lama bersama warga, mendengarkan kisah masa lalu, lalu membagikannya dalam bentuk video yang hangat dan personal. Konten seperti ini terasa lebih jujur, dan justru itu yang dicari audiens sekarang.
Apalagi generasi muda hari ini cenderung lebih percaya pada cerita dibanding iklan. Menariknya, sumber cerita terbaik justru datang dari warga lokal sendiri. Dari nenek penjual jamu di gang sempit, penjaga makam yang hafal sejarah di luar kepala, sampai anak-anak muda yang tumbuh di lingkungan itu dimana mereka adalah “suara asli” yang bisa membuat Kampung Peneleh terasa dekat dan nyata.
Memang, ada tantangan yang tidak bisa diabaikan. Akses digital belum sepenuhnya merata, tidak semua warga terbiasa dengan platform media sosial, dan narasi sejarahnya juga belum dikemas secara sederhana untuk publik luas. Tapi justru di situlah peluangnya. Siapa yang mulai lebih dulu, dia yang akan menentukan bagaimana Kampung Peneleh dikenal.
Akhirnya, pertanyaannya bukan lagi apakah Kampung Peneleh layak dikenal dunia jawabannya jelas iya. Yang jadi persoalan adalah, sampai kapan potensi ini dibiarkan berjalan di tempat. Komunikasi pariwisata seharusnya tidak bergantung pada event sesaat, tapi hadir setiap hari, konsisten, dan terus membangun cerita.
Kalau dikelola dengan serius, bukan tidak mungkin Kampung Peneleh bisa berdiri sejajar dengan destinasi sejarah lain di Asia Tenggara. Bukan karena diubah menjadi sesuatu yang baru, tapi justru karena tetap mempertahankan keasliannya. Di situlah peran komunikasi yang sebenarnya, bukan sekadar mempromosikan, tapi memastikan bahwa cerita yang ada tidak pernah berhenti hidup dan didengar.

Social Header