Dalam beberapa tahun terakhir, media sosial telah menjadi salah satu bagian penting dalam kehidupan mahasiswa. Bukan hanya digunakan sebagai sarana hiburan saja, media sosial juga berfungsi sebagai sumber informasi sekaligus menjadi ruang untuk menyampaikan pendapat. Salah satu platform yang banyak digunakan adalah Instagram, hal ini memungkinkan penyebaran suatu informasi bisa berlangsung secara cepat dan mudah diakses.
Dengan adanya media sosial, mahasiswa bisa dengan cepat dalam mengetahui berbagai peristiwa, termasuk kasus yang terjadi di lingkungan pendidikan. Namun, informasi yang beredar seringkali tidak utuh serta hanya berupa potongan-potongan saja. Hal ini membuat cara mahasiswa dalam memahami suatu kasus bisa berbeda-beda, tergantung dari mana mereka terima informasi tersebut.
Salah satu kasus yang sempat menjadi perhatian publik ialah dugaan perundungan di dalam Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) di Universitas Diponegoro. Kasus ini sangat ramai diperbincangkan di beberapa media sosial dan memunculkan berbagai tanggapan dari masyarakat, terutama kalangan mahasiswa. Dengan banyaknya opini yang muncul menunjukkan bahwa media sosial memiliki peran dalam pembentukan akan cara pandang seseorang terhadap suatu isu atau suatu kasus.
Di kalangan mahasiswa Surabaya, pembahasan mengenai kasus perundungan PPDS Undip sempat ramai serta muncul di berbagai macam media sosial. Banyak yang pernah melihat maupun membaca informasi terkait kasus tersebut, bahkan masih cukup mengingatnya meskipun sudah berlalu beberapa tahun yang lalu. Dari hal ini menunjukkan bahwa penyebaran suatu informasi di media sosial cukup kuat dalam meninggalkan kesan bagi penggunanya.
Meski begitu, tidak semua mahasiswa sepemahaman dalam menanggapi kasus perundungan PPDS Undip. Sebagian merasa sudah cukup paham akan kasus tersebut, namun ada juga yang mengakui bahwa informasi yang mereka terima masih terbatas serta belum sepenuhnya utuh. Perbedaan ini wajar sekali terjadi, mengingat bahwa sebuah informasi yang ada di media sosial sering kali disajikan dalam bentuk potongan-potongan.
Perbedaan pandangan juga terlihat dalam membahas akan penyebab perundungan yang terjadi. Ada yang menilai bahwa perundungan tersebut disebabkan oleh sistem pendidikan yang kurang baik, sementara ada juga yang menilai perundungan tersebut terjadi dikarenakan perilaku individu. Selain itu beberapa orang juga beranggapan bahwa lingkungan yang terbiasa keras dapat menciptakan tindakan seperti perundungan yang dianggap sesuatu yang biasa, terutama jika dikaitkan dengan proses pembentukan profesionalitas.
Media memiliki peran yang cukup besar dalam pembentukan cara pandang mahasiswa. Cara media dalam menyampaikan suatu informasi dapat mempengaruhi penilaian mereka. dalam beberapa kasus, opini yang paling banyak muncul atau opini mayoritas di media sosial cenderung lebih mudah diikuti dibandingkan dengan opini yang lain.
Dari hal ini media sosial bukan hanya berfungsi sebagai sumber informasi saja, tetapi juga menjadi ruang dalam terbentuknya opini publik. Oleh karena itu, penting bagi para pengguna media sosial, khususnya mahasiswa, untuk lebih selektif serta kritis dalam menyikapi informasi yang beredar agar tidak mudah terbawa arus opini yang belum tentu kebenarannya.
Sebagai tugas Opini Publik Dan Propaganda.
Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya.
Dosen Pengampu oleh Ibu Beta Puspitaning Ayodya, S.Sos.,M.A.
Disusun Oleh :
1. Qonitatillah Mutiara Fatima (1152400177)
2. Euzebia Valdiningsih Putri Ndia (1152400179)
3. An Nisa Dira Rasisa (1152400181)
4. Wahyu Wijayanti Putri (1152400201)
5. Viona Darmayanti (1152400209)
Social Header