Indonesia tidak pernah kekurangan tempat wisata yang indah. Dari pegunungan hingga pantai, dari situs sejarah hingga wisata buatan, semuanya menawarkan daya tarik visual yang memikat. Sebagai mahasiswa yang menempuh mata kuliah komunikasi pariwisata, saya Achmad Rassel, memahami bahwa industry pariwisata tidak hanya berbicara tentang keindahan destinasi, tetapi juga tentang bagaimana pesan, nilai, dan makna disampaikan ke wisatawan. Materi yang saya pelajari di kelas Komunikasi Pariwisata yang diampu oleh Drs. Widiyatmo Ekoputro, MA., semakin membuka wawasan bahwa komunikasi memiliki peran penting dalam membentuk pengalaman wisata yang tidak hanya menarik, tetapi juga bermakna. 

Dalam konteks ini, saya melihat bahwa pariwisata di Indonesia saat ini menghadapi tantangan yang cukup serius, yaitu kurang optimalnya penerapan komunikasi dalam menyampaikan nilai sebuah destinasi wisata. Terlihat dari kecenderungan wisatawan yang lebih berfokus pada aspek visual seamata, mencari foto menarik untuk diunggah ke media sosial mereka dibanding memahami Sejarah, budaya, maupun nilai lokal dari tempat yang mereka kunjungi. Akibatnya, wisata cenderung bergeser menjadi sekadar konsumsi visual, bukan lagi pengalaman yang memberikan pengetahuan. 

Dalam kajian ilmu komunikasi, kondisi ini menunjukkan lemahnya komunikasi informatif,proses Dimana pesan yang bertujuan memberikan pengetahuan kepada audiens. Sedangkan, menurut penelitian ilmiah, komunikasi pariwisata merupakan “proses penyampaian pesan informasi wisata dari pengelola kepada wisatawan baik secara verbal maupun nonverbal” (Nathasya, 2024). Hal ini menegaskan bahwa informasi seperti Sejarah, filosofi, dan nilai budaya bukan sekedar pelengkap, melainkan bagian utama dari pengalaman wisata. 

Namun, di lapangan menunjukkan bahwa banyak destinasi wisata lebih menonjolkan spot foto estetik dibandingkan narasi edukatif. Penelitian lain juga menunjukkan bahwa pengembangan wisata sering kali hanya berfokus pada daya tarik visual tanpa mengoptimalkan komunikasi berbasis kearifan local. Bahwa komunikasi dalam pariwisata Indonesia masih belum dimanfaatkan secara maksimal sebagai media edukatif. 

Selain komunikasi informatif, pesoalan ini juga berkaitan dengan lemahnya komunikasi interpretatif, yaitu kemampuan menyampaikan makna di balik suatu objek wisata. Di lapangan, komuniasi interpretatif dapat diwujudkan melalu papan informasi, storytelling oleh pemandu wisata, hingga media digital interaktif. Sangat disayangkan, banyak destinasi wisata di Indonesia belum menghadirkan elemen ini secara optimal, sehingga wisatawan hanya “melihat” tanpa benar-benar “memahami”. 

Di sisi lain, perkembangan komunikasi digital juga turut mempengaruhi pola perilaku wisatawan. Media sosial kini menjadi sarana utama buat promosi pariwisata. Model komunikasi digital seperti AISAS (attention, interest, search, action, share) menunjukkan bahwasawa wisatawan cenderung tertarik, mencari informasi, lalu membagikan pengalaman mereka secara visual (Rachmawati, 2026). Pada praktiknya, tahap “share” lebih didominasi oleh foto dibandingkan informasi yang edukatif, sehingga memperkuat budata wisata instan.

Sementara itu, komunikasi yang efektif dalam pariwisata itu seharusnya tidak hanya bersifat persuasif, tetapi juga edukatif. Dalma kajian lain, disebutkan bahwa komunikasi pariwisata yang efektif harus bersifat holistic, transparan, dan berbasis nilai untuk menciptakan pengalaman wisata yang berkelanjutan (Astuti & Bestari, 2025). Artinya, bahwa komunikasi harus mampu menghadirkan cerita yang membangun keterikatan emosional antara wisatawan dan destinasi.

Kurangnya komunikasi yang baik juga berdampak pada rendahnya kesadaran wisatawan terhadap pelestarian budaya. Tanpa pemahaman yang cukup, wisatawan cenderung tidak memiliki rasa. Hal ini tentu menjadi tantangan besar bagi keberlanjutan pariwisata di Indonesia. Oleh karena itu, diperlukan upaya yang lebih serius dari berbagai pihak untuk memperkuar komunikasi dalam industri pariwisata. Pengelola wisata perlu mengembangkan strategi komunikasi yang tidak hanyak menarik visual, tetapu juga kaya akan informasi.

Pada akhirnya, pariwisata bukan hanya soal keindahan visual, tetapu juga tentang pertukaran makna. Komunikasi berperan penting sebagai jembatan, jika komunikasi dalama pariwisata diterapkan secara optimal, maka wisatwan tidak hanya pulang dengan foto, tetapu juga dengan pengetahuan dan pengalaman yang lebih mendalam tentang budaya dan sejarah Indonesia.