​Sanana – Maluku Utara
Ada sesuatu yang berbeda ketika ratusan orang berjalan bukan karena terpaksa, melainkan karena rindu. Rindu pada tradisi, rindu pada tanah leluhur, dan rindu pada sesama warga yang mungkin sudah lama tak bersua. Itulah nyawa di balik Gabalil Hai Sua (GHS) 2026 yang resmi bergulir tahun ini.

​Sebanyak 310 peserta dari berbagai pelosok desa di Kepulauan Sula berkumpul, menapaki rute bersejarah yang bermula dari Benteng De Verwachting. Bagi mereka, GHS bukan sekadar perlombaan ketahanan fisik, melainkan sebuah pengakuan kolektif: "Kami adalah orang Sula."

​Perjalanan sejauh lima hari ini membelah jantung Kepulauan Sula, melewati pos-pos penting yang menjadi saksi bisu identitas kesulaan:


Tanggal 2 Mei rute Perjalanan: Benteng De Verwachting → Desa Nahi, Pelepasan perdana di titik bersejarah, 3 Mei
Desa Nahi → Desa Fuata, Pemeriksaan kesehatan dan pemulihan energi lalu 4 Mei
Desa Fuata → Desa Fatkauyon, menembus pedalaman antar kecamatan serta 5 Mei
Desa Fatkauyon → Desa Fatiba, 
Peristirahat akhir di Sula Besi Tengah dan 6 Mei
Desa Fatiba → Benteng De Verwachting, Garis finish dan titik awal kenangan.

Di tengah peluh dan debu perjalanan menuju Desa Fatiba, sebuah momen menyentuh terjadi. Regu Purnama dari Desa Kabau Pantai, Kecamatan Sula Besi Barat, membuktikan bahwa esensi GHS adalah kemanusiaan.

​Di sela langkah mereka, regu ini menyempatkan diri singgah untuk bersilaturahmi dengan Ibu Sarnawiya Fokaaya, seorang lansia yang telah puluhan tahun hidup menyendiri sejak kepergian suaminya. Kunjungan singkat ini menjadi pengingat bahwa di antara ambisi mencapai garis finish, ada hati yang harus dijaga.

​"Kami bersyukur dengan adanya kegiatan Gabalil Hai Sua 2026 ini. Kami dapat menyambung tali silaturahmi antar sesama warga. Semoga GHS selalu dilestarikan sebagai identitas Kesulaan," ujar Abd. Mutalib Fataruba, salah satu peserta GHS 2026.

​Ucapan Abd. Mutalib merangkum dengan tepat semangat yang menghidupi GHS dari tahun ke tahun. Ini adalah cara orang Sula mengenali diri mereka sendiri siapa mereka, dari mana mereka berasal, dan kepada siapa mereka bertanggung jawab sebagai sesama warga.

​Saat berita ini diturunkan, 310 peserta masih terus mengayunkan langkah menuju titik akhir di Benteng De Verwachting pada 6 Mei besok. Gabalil Hai Sua 2026 sekali lagi membuktikan bahwa identitas bukanlah sesuatu yang cukup dibaca di buku sejarah; ia harus dijalani, ditapaki, dan dirasakan bersama dalam setiap derap langkah kaki.

Andri