Indonesia tidak kekurangan destinasi wisata. Yang sering kurang justru cara mengomunikasikannya. Banyak tempat indah, tapi sepi pengunjung. Bukan karena tidak layak dikunjungi, melainkan karena gagal membangun citra di mata publik.

Pantai Pasetran Gondo Mayit di Blitar adalah salah satu contohnya. Secara visual, pantai ini punya semua syarat untuk berkembang. Lanskapnya khas pantai selatan dengan ombak yang kuat, garis pantai yang luas, serta suasana yang masih alami dan belum terlalu ramai. Dalam tren wisata saat ini, kondisi seperti ini justru menjadi daya tarik, terutama bagi wisatawan yang ingin mencari ketenangan dan pengalaman berbeda dari destinasi mainstream.

Namun, satu hal justru menjadi penghambat yaitu dari segi nama. “Gondo Mayit” yang memiliki konotasi negatif sering kali memunculkan kesan menyeramkan. Bagi orang yang belum pernah datang, nama itu cukup untuk membentuk persepsi awal yang kurang baik. Akibatnya, minat berkunjung menjadi menurun bahkan sebelum wisatawan mengetahui kondisi sebenarnya. Di titik ini, persoalannya bukan lagi pada kualitas destinasi, tetapi pada bagaimana destinasi tersebut dikomunikasikan.

Dalam perspektif komunikasi, sebagaimana disampaikan oleh Drs. Widyatmo Ekoputro, M.A., pesan yang disampaikan kepada publik tidak hanya berfungsi sebagai informasi, tetapi juga membentuk cara pandang. Artinya, citra sebuah tempat tidak muncul secara alami, melainkan hasil dari proses komunikasi yang terus-menerus. Jika komunikasi yang dibangun lemah, maka persepsi yang muncul pun bisa menyimpang dari kenyataan.

Sayangnya, strategi komunikasi pariwisata di banyak daerah masih belum maksimal. Promosi sering kali hanya sebatas penyampaian informasi dasar, seperti lokasi dan fasilitas, tanpa membangun cerita yang kuat. Padahal, di era digital seperti sekarang, wisata tidak hanya tentang tempat, tetapi juga tentang pengalaman dan narasi yang bisa dibagikan.

Pantai Pasetran Gondo Mayit sebenarnya memiliki peluang besar untuk mengubah stigma menjadi daya tarik. Salah satu langkah yang bisa dilakukan adalah melalui pendekatan storytelling. Nama “Gondo Mayit” tidak perlu dihilangkan, tetapi bisa dijelaskan melalui cerita sejarah atau legenda yang melatarbelakanginya. Dengan begitu, makna negatif dapat bergeser menjadi identitas yang unik dan justru menarik perhatian.

Selain itu, pemanfaatan media sosial perlu dioptimalkan. Saat ini, keputusan seseorang untuk berwisata sangat dipengaruhi oleh konten digital. Foto yang menarik, video yang estetik, serta pengalaman pengunjung yang autentik mampu membentuk persepsi baru secara perlahan. Bahkan, tidak jarang satu konten viral dapat mengangkat popularitas sebuah destinasi dalam waktu singkat.

Kolaborasi dengan content creator juga menjadi strategi yang relevan. Mereka memiliki kedekatan dengan audiens dan mampu menyampaikan pesan dengan cara yang lebih santai dan mudah diterima. Ketika pengalaman positif dibagikan secara konsisten, kepercayaan publik terhadap suatu destinasi akan terbentuk dengan sendirinya.

Namun demikian, komunikasi pariwisata tidak boleh bersifat sesaat. Banyak destinasi yang sempat viral, tetapi kemudian kembali sepi karena tidak mampu menjaga konsistensi pesan. Padahal, membangun citra membutuhkan waktu dan kesinambungan. Tanpa komunikasi yang berkelanjutan, potensi yang ada akan sulit berkembang secara maksimal.

Pantai Pasetran Gondo Mayit pada dasarnya tidak kekurangan daya tarik. Yang perlu diperkuat adalah bagaimana cara menyampaikan keunggulan tersebut kepada publik. Jika komunikasi dikelola dengan tepat, maka stigma yang selama ini melekat justru dapat diubah menjadi keunikan yang membedakan dengan destinasi lain.

Pariwisata hari ini bukan hanya soal keindahan, tetapi juga soal persepsi. Dan persepsi selalu dimulai dari komunikasi. Jika komunikasi mampu dikelola secara strategis, maka bukan tidak mungkin Pantai Pasetran Gondo Mayit akan dikenal bukan karena kesan negatifnya, tetapi karena pesona dan keunikannya.

Informasi Penulis

  • Nama : Rafi Putra Firmansyah
  • NIM : 1152300154
  • Matkul : Komunikasi Pariwisata – D
  • Dosen Pengampu : Drs. Widiyatmo Ekoputro, MA