SEMARANG - JATENG
Gaung tradisi Gabalil Hai Sua (GHS) 2026 tak hanya terasa di tanah asalnya di Kepulauan Sula, tetapi juga menggema hingga Semarang, Jawa Tengah. Seorang putra daerah yang kini merantau, Idrus Umarama, S.H., M.H., menyuarakan apresiasi sekaligus dorongan tegas agar tradisi tersebut mendapat pengakuan dan perlindungan lebih serius dari pemerintah.
Idrus, seorang advokat dan praktisi hukum yang menetap di Semarang, mengaku terharu saat mendengar 310 peserta menapaki jalur bersejarah dari Benteng De Verwachting di Sanana. Bagi pria yang akrab disapa Idho Ambon itu, GHS bukan sekadar kegiatan berjalan kaki, melainkan simbol hidupnya nilai-nilai Kesulaan yang terus terjaga.
“Dari jauh, saya menyampaikan penghargaan setinggi-tingginya kepada panitia dan seluruh peserta. Kalian bukan sekadar berjalan, tetapi sedang merawat jiwa Kesulaan sesuatu yang tak ternilai,” ujar Idrrus Selasa (5/4/2026).
Sebagai putra daerah yang kini berkecimpung di dunia hukum, Idrus menilai GHS memiliki nilai yang jauh melampaui tradisi biasa. Ia melihatnya sebagai perpaduan kearifan lokal, penguatan sosial budaya, hingga manfaat kesehatan jasmani dan rohani.
Namun, apresiasi itu disertai kritik konstruktif. Idrus menegaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sula tidak boleh sekadar menjadi penonton. Ia mendorong adanya langkah konkret berupa dukungan anggaran, regulasi perlindungan budaya, serta pengakuan resmi GHS sebagai agenda tahunan daerah.
“Ini investasi sosial, budaya, dan kesehatan. Pemerintah harus hadir nyata bukan hanya merestui, tetapi juga melindungi dan mengembangkan,” tegasnya.
Menurutnya, tanpa dukungan kelembagaan, tradisi berharga seperti GHS berpotensi tergerus zaman. Karena itu, ia mengusulkan agar GHS didorong menjadi warisan budaya yang diakui secara nasional.
Di akhir pernyataannya, Idrus menyampaikan harapan besar: menjadikan Gabalil Hai Sua sebagai identitas yang dikenal luas, bahkan hingga tingkat internasional. Ia meyakini tradisi ini memiliki semua potensi keunikan, nilai filosofis, serta dukungan masyarakat untuk menjadi kebanggaan Indonesia di mata dunia.
“Semoga suatu saat dunia mengenal Sula bukan hanya dari petanya, tetapi dari langkahnya dari tradisi agung bernama Gabalil Hai Sua,” tutupnya.
Kini, GHS 2026 masih terus berlangsung. Setiap langkah para peserta menuju garis akhir bukan hanya perjalanan fisik, tetapi juga penegasan identitas bahwa Kesulaan tetap hidup, dijaga, dan dibanggakan, baik di tanah kelahiran maupun di perantauan.
Andri
Social Header