Mahasiswa semester tiga Program Studi Ilmu Komunikasi UNTAG Surabaya laksanakan sosialisasi dan edukasi terkait dunia digital pada remaja SMP dan SMA di Surabaya pada Desember 2024 lalu. Program ini merupakan tugas akhir mata kuliah perkembangan teknologi komunikasi. Beberapa kelompok dari beberapa kelas tersebar diberbagai kecamatan yang ada di Surabaya. Secara garis besar program ini bertujuan untuk memberikan wawasan terkait penggunaan dan pemanfaatan media sosial dengan baik dan benar.
Dunia digital khususnya media sosial menjadi sangat krusial saat ini sebab sejak diharuskan melaksanakan pembelajaran jarak jauh ketika pandemi covid-19, penggunaan internet dikalangan anak-anak dan remaja menjadi meningkat. Berdasarkan laporan dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) mengungkapkan bahwa penetrasi internet Indonesia mencapai 77,02% pada tahun 2021-2022, penetrasi internet tertinggi berada di kelompok usia 13-18 tahun. Hampir seluruhnya (99,16%) kelompok usia tersebut terhubung ke internet ( sumber : Databoks 2022) . kelompok usia ini merupakan usia kisaran remaja SMP dan SMA sehingga edukasi terkait dunia digital khususnya media sosial yang kian marak digunakan menjadi sangat penting dan menjadi kewaspadaan bersama.
Pendidikan memiliki peranan sentral untuk membentengi generasi bangsa dalam bertindak, bertingkah laku, berpikir dan berbicara, termasuk di dalam dunia maya. Remaja adalah fase dimana anak mulai mencari jati dirinya dan berani mengeksplore lebih banyak hal dari sebelumnya, emosinya pun terbilang belum matang sehingga cenderung ikut-ikutan apa yang dilihat. Bisa kita bayangkan di era digital yang semasif ini ancaman kejahatan dan penyelewengan di media sosial oleh remaja semakin nyata adanya, yang tentunya dapat sangat merugikan dirinya sendiri dan orang lain, terlebih jika tidak memiliki pedoman berdigital yang kuat.
Ilmu komunikasi untag surabaya menginisiasi program edukasi dan sosialisasi ini untuk berkontribusi menjawab tantangan di atas. Adapun beberapa tahapan yang dilakukan, pertama melaksanakan survei ke kurang lebih 30 SMP setiap kecamatan yang ada di Surabaya, dengan membagikan kuisioner kepada masing-masing anak untuk mengetahui preferensi media mereka, tahap selanjutnya pelaksanaan edukasi dan sosialisasi. Mengutip beberapa subtopik edukasi dari salah satu kelas dengan topik utama “MEMBANGUN CITRA DIRI DAN REPUTASI POSITIF DI DUNIA DIGITAL” diantaranya adalah sebagai berikut :
Pengantar Literasi Digital di Era Media Sosial
Definisi literasi digital dan pentingnya di era digital
Transformasi media sosial dan dampaknya terhadap citra diri
Pentingnya kesadaran digital dalam membangun citra diri yang positif
Tujuan dan manfaat literasi digital dalam kehidupan sehari-hari
Pemahaman Dasar Literasi Digital
Konsep dasar literasi digital: akses, evaluasi, dan penggunaan informasi secara efektif
Literasi informasi: bagaimana memahami, menafsirkan, dan mengevaluasi informasi di media sosial
Literasi komunikasi: berinteraksi dengan etika dan empati di dunia digital
Literasi privasi dan keamanan: menjaga data pribadi dan melindungi privasi
Media Sosial sebagai Platform Citra Diri
Peran media sosial dalam pembentukan citra diri
Dampak media sosial terhadap persepsi diri dan orang lain
Identitas online vs. identitas asli: bagaimana keduanya bisa saling mendukung atau bertentangan
Etika dalam membangun citra diri di media sosial
Membangun Citra Diri Positif di Media Sosial
Mengidentifikasi nilai dan kepribadian diri untuk membentuk citra yang autentik
Membangun personal branding: panduan praktis untuk menciptakan citra profesional dan positif
Konsistensi pesan dan perilaku di berbagai platform sosial
Studi kasus: Tokoh publik yang sukses membangun citra positif di media sosial
Teknik dan Strategi Membangun Citra Diri yang Positif
Mengelola konten: cara memilih dan menyusun konten yang mencerminkan citra diri positif
Visual dan estetika: tips visual untuk media sosial yang berkesan
Pemilihan bahasa dan nada bicara yang sesuai dengan citra diri
Pengelolaan interaksi: cara merespons dan berkomunikasi dengan baik
Menghadapi Tantangan dalam Membangun Citra Diri di Media Sosial
Mengelola kritik dan komentar negatif dengan bijaksana
Menghindari over-sharing dan fenomena “FOMO” (Fear of Missing Out)
Tips menghindari konten yang bisa merusak citra diri
Mengatasi tekanan sosial dan dampak psikologis dari media
Tips menghindari konten yang bisa merusak citra diri
Mengatasi tekanan sosial dan dampak psikologis dari media sosial
Peran Etika dan Tanggung Jawab di Media Sosial
Pentingnya etika digital: menjadi pengguna yang bertanggung jawab
Menghindari informasi palsu dan hoaks
Dampak positif dari perilaku etis di media sosial terhadap citra diri
Kontribusi untuk menciptakan lingkungan digital yang sehat dan mendukung
Literasi Visual dalam Membangun Citra Diri
Menyusun estetika visual sesuai dengan citra diri
Memanfaatkan fitur-fitur visual seperti foto profil, feed, dan video
Penggunaan elemen desain yang konsisten untuk memperkuat branding
Contoh-contoh sukses dalam literasi visual dan branding di media sosial
Mengukur dan Mengelola Citra Diri di Media Sosial
Cara mengevaluasi dan memperbarui citra diri secara berkala
Alat dan teknik untuk mengukur dampak dari citra diri yang dibangun
Menganalisis data interaksi dan feedback untuk pengembangan citra diri
Melakukan penyesuaian citra diri berdasarkan tren dan perubahan platform
Membangun Masa Depan yang Sehat dan Positif dengan Literasi Digital
Membudayakan literasi digital sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari
Memupuk sikap positif dan bijaksana dalam interaksi digital
Masa depan media sosial dan peran literasi digital yang semakin penting
Penutup: Refleksi dan komitmen untuk citra diri yang positif di dunia digital
Sebagai mahasiswa yang telah diamanahkan dipundaknya Tri Dharma Perguruan Tinggi dengan pilar pendidikan dan pengajaran, penelitian, serta pengabdian kepada masyarakat, sudah sepatutnya dapat berdampak bagi masyarakat luas, seminim-minimnya bagi dirinya sendiri dan sekitarnya, pun sebagai insan yang terdidik sudah selayaknya dapat memberikan manfaat atas ilmu yang dimiliki. Tan Malaka dalam bukunya, Madilog “Bila kaum muda yang telah belajar di sekolah dan menganggap dirinya terlalu tinggi dan pintar untuk melebur dengan masyarakat yang bekerja dengan cangkul dan hanya memiliki cita-cita yang sederhana, maka lebih baik pendidikan itu tidak diberikan sama sekali". Kutipan tersebut memiliki makna yang cukup dalam terkait bagaimana seharusnya masyarakat yang berwawasan bersikap kepada masyarakat yang membutuhkan wawasan.
Mahasiswa digadang-gadang sebagai agen of change terlebih untuk Indonesia emas 2045, mulai dari sekarang inilah momentum yang tepat untuk seharusnya semua kalangan bersatu bahu-membahu mewujudkan cita-cita tersebut, saling mengisi dan saling berbagi. Apa yang telah dilaksanakan mahasiswa ilmu komunikasi UNTAG Surabaya ini membuktikan sinergi untuk bersama-sama dapat mencapai ke sana, Indonesia emas 2045.
Adiska Putria Nova 1152300285
Social Header